<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902</id><updated>2011-08-02T01:46:07.644+02:00</updated><title type='text'>Beautiful Moments to Share</title><subtitle type='html'>...if you invest in beauty, it will remain with you all the days of your life...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-7814600840459215529</id><published>2010-03-18T11:55:00.021+01:00</published><updated>2010-06-12T23:35:31.543+02:00</updated><title type='text'>Masalah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S6J2F1JT4DI/AAAAAAAAAuQ/kk6Sp7yR7gs/s1600-h/sad.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 261px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S6J2F1JT4DI/AAAAAAAAAuQ/kk6Sp7yR7gs/s320/sad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450048341609275442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Banyak dari kita menganggap bahwa hidup itu berat. Penuh dengan berbagai masalah. Cobaan melanda silih berganti. Lalu, bagaimanakah cara kita supaya bisa terlepas dari masalah yang menjerat?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Masalah bisa timbul dimana dan kapan saja. Timbul di dalam setiap langkah yang kita pilih. Baik itu masalah besar. Maupun masalah yang amat sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap masalah yang muncul di dalam hidup ini tidaklah dapat dihindari. Tugas kita adalah mencari penyelesaiannya. Dan berusaha membuat masalah tersebut menjadi seminimal mungkin. &lt;p&gt;Terkadang kita menyesal atas perbuatan kita terdahulu. Dengan berpikir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Seandainya saja..."&lt;/span&gt; &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;. Namun tidaklah efisien bila terus menyesali diri. Dan hanya terus bertumpu pada masa lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px; "&gt;Sebenarnya setiap masalah baik itu besar atau kecil semuanya terletak di tangan kita. Percayalah bahwa semua dapat di selesaikan dengan mudah.  Tergantung cara kita menyikapinya. Bagaimana kita melihat sisi positif dari setiap masalah yang ada.Kuncinya adalah berbagi dengan orang lain. Jangan pernah menyimpan setiap masalah hanya pada diri sendiri. Karena tak semua masalah dapat diselesaikan sendiri. Meminta pendapat orang lain tidak ada salahnya. Ada kalanya pendapat orang lain itu bisa menjadi dorongan utama. Dalam mencari titik penyelesaian dari masalah yang menjerat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun berbagilah kepada orang yang dipercayai. Orang yang bisa memahami situasi kita. Tentu saja kepada orang yang tidak suka membeberkan rahasia pribadi kita kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pendapat yang diterima. Bisa saja kita tidak merasa puas. Namun ada satu hal yang lebih besar yang didapatkan. Beban yang dulunya begitu berat kembali menjadi ringan. Walaupun itu hanya dengan berbagi atau bercerita saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa demikian? karna dengan berbagi kita merasa terbebas dari beban. Ingat, beban yang dipikul oleh dua orang lebih ringan. Daripada yang dipikul oleh satu orang. Percaya atau tidak? cobalah!***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-7814600840459215529?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/7814600840459215529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=7814600840459215529' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/7814600840459215529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/7814600840459215529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2010/03/masalah.html' title='Masalah'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S6J2F1JT4DI/AAAAAAAAAuQ/kk6Sp7yR7gs/s72-c/sad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-7794393162429999642</id><published>2010-02-25T17:34:00.032+01:00</published><updated>2010-03-22T20:49:29.529+01:00</updated><title type='text'>Rasa Kehilangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S6J1KHqpzPI/AAAAAAAAAuI/KEi3kbKqxmM/s1600-h/aku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S6J1KHqpzPI/AAAAAAAAAuI/KEi3kbKqxmM/s320/aku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450047315788811506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Setiap pasangan suami istri sangat mengharapkan hadirnya seorang anak di dalam kehidupan mereka. Kebahagiaan itu mulai menjadi kenyataan bila si istri  dinyatakan hamil. Namun apa yang terjadi bila setelah beberapa minggu si calon ibu ternyata di  vonis keguguran? Kebahagiaan itu tentu saja menjadi pudar seketika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar wanita yang mengalami keguguran menjadi trauma dalam menghadapi kenyataan. Rasa tidak percaya, rasa hancur, marah, shock, sedih,  bingung dan rasa kehilangan yang mendalam. Sementara beberapa orang mungkin hanya dapat menerima kenyataan dengan melihat hal itu secara filosofis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seorang wanita yang siap mental dalam menghadapi bila suatu saat akan kehilangan si calon bayi. Begitu halnya dengan saya. Rasa sedih masih terasa ketika  mengalami keguguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepatnya desember &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(2009)&lt;/span&gt; lalu, awal kebahagiaan mulai mewarnai keluarga. Saya dinyatakan hamil. Tentu saja semua terbukti dengan melakukan berbagai tes kehamilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengontrol kondisi kandungan saya. Dokter menyarankan agar tes usg &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ultrasonography&lt;/span&gt;). Saat itu tepatnya kehamilan pada minggu ke enam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;usg,&lt;/span&gt; dokter mengatakan bahwa detak jantung embrio mulai terlihat. Namun belum bisa dipastikan kondisi embrio sebenarnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"...masih terlalu kecil"&lt;/span&gt;, demikian ungkap si dokter kandungan. Dan disarankan untuk&lt;span style="font-style: italic;"&gt; usg&lt;/span&gt; lagi pada minggu berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada minggu berikutnya, hasil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;usg &lt;/span&gt;amat mengejutkan saya juga suami. Dokter menyatakan bahwa embrio tidak berkembang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"detak jantung tak terdeteksi",&lt;/span&gt; kata dokter dengan wajah serius. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"kemungkinan besar anda keguguran"&lt;/span&gt;, sambungnya. Untuk memastikannya saya dianjurkan tes&lt;span style="font-style: italic;"&gt; usg&lt;/span&gt; lagi pada minggu selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara percaya dan tidak, saya dan suami mencoba browsing di internet. Membaca berbagai artikel mengenai keguguran. Nihil. Tidak ada satupun artikel yang memuaskan kami berdua. Akhirnya kami hanya bisa berpasrah kepada Tuhan. Walaupun  jauh di lubuk hati masih sulit untuk menerima kenyataan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vonis berat terjadi saat tes &lt;span style="font-style: italic;"&gt;usg&lt;/span&gt; ke tiga kalinya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"... tidak ada harapan lagi!", &lt;/span&gt;ungkap dokter dengan wajah amat menyesal. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"kehamilan terhenti",&lt;/span&gt; sambungnya lagi. Akhirnya dokter menyarankan pada hari yang sama ke unit gawat darurat untuk segera dikuret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih, marah, dan berbagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;negative thinking&lt;/span&gt; muncul seketika.   Tanpa berpikir panjang saya dan suami segera ke unit gawat darurat. Pukul dua belas malam tepatnya, saya dibawa ke ruang operasi. Yang muncul saat itu hanyalah rasa takut. Namun setelah dibius, semuanya tidak terasa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali tersadar setelah tiga puluh menit kemudian. Rasa sakit akibat dikuret tak terasa sedikitpun. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"syukur  padaMu Tuhan operasi bisa berjalan dengan baik"&lt;/span&gt;, gumam saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa hari dikuret perasaan negatif mulai timbul. Rasa kehilangan. Amarah yang tak menentu. Juga emosi yang semakin tidak stabil. Saya mencoba menenangkan diri. Kembali mendekatkan diri kepada Dia sang Ilahi. Berserah kepadaNya. Hanya dengan begitu  saya mulai mengerti makna dibalik penderitaan yang dialami. Sadar bahwa semuanya pasti indah pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya hari esok lebih cerah dari hari kemarin! ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-7794393162429999642?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/7794393162429999642/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=7794393162429999642' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/7794393162429999642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/7794393162429999642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2010/02/pengalamanku.html' title='Rasa Kehilangan'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S6J1KHqpzPI/AAAAAAAAAuI/KEi3kbKqxmM/s72-c/aku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-8129059491636690638</id><published>2009-09-29T13:04:00.015+02:00</published><updated>2009-10-15T11:45:02.326+02:00</updated><title type='text'>My Wedding</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SsJp17IJThI/AAAAAAAAAtQ/6821EOdVPNc/s1600-h/wedding2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 214px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SsJp17IJThI/AAAAAAAAAtQ/6821EOdVPNc/s320/wedding2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5386984479414373906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I thought it would be fun to post some pictures of our italian wedding day. It was most definitely one of the happiest day of my life, not because of all the pomp and ceremony but because it was an incredible beginning with the man I am madly in love with.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;First, early afternoon, we took some romantic pictures at Agropoli Castle by the beach side overlooking the sea. My wedding dress was so spusing high heels and a long then after. We bought it in Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then, we had our Catholic wedding blessing, at St. Biagio of Cerelli, Italy. A fantastic choir sang during the mass. They sang like angels with a different voices.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We said our own vows infront of the Priest. Germano and I reciting everything in Italian. Priest blessed our white, diamond wedding rings. We choose it as sign of our pure love. In the end of the mass, my sister in law recite her beautiful poem. It was touched our emotion!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will now bore you with many many wedding pictures! &lt;a href="http://veronikaimages.blogspot.com/2009/09/italian-wedding-pics.html"&gt;click here&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;br /&gt;With Germano's family and some of his close friends, we had another small wedding in Capital Hotel. It was a small affair with only a hundred guests in attendance. We ate and danced happily using some Indonesian songs. Our wedding cake was a three level cake with white heart form!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The wedding was very special but our marriage is worth even more. It was fun to celebrate our love with the whole world but once the gorgeous wedding dress and suit are packed away, the gifts unwrapped and the photos gathering dust… it is the here and now that excites me. Our marriage no longer feels brand new, I happily hold the title ‘Germano’s wife’ as much as he loves being called&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Lao" (my nias dialect - brother in low)&lt;/span&gt;. Life is exciting and is much much more now that we have each other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here below are my questions and answers:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;How long have you been in love to each other?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;We’ve been known each other for almost 2 year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who asked whom out to engaged?&lt;br /&gt;He asked me out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How old are each of you?&lt;br /&gt;I'm 8 year younger than Germano... He is 40&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Whose siblings do you see the most?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Germano's… her sister live nearby our house, so we see the family almost everyday.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Which situation is the hardest on you  since you with Germano?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Long distance problems… Before we got married. I was in Indonesia and Germy live in Italy. Our love was a love long distance. But Germy always called me up twice a day!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Are you from the same home town?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I love this question. No. We are from different sides of the world! I think it adds an element of fun to our marriage as our cultures clash constantly!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who is smarter?&lt;br /&gt;We haven’t decided.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who is the most sensitive?&lt;br /&gt;Germy… definitely!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Where do you eat out most as a couple?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;At the moment, we love Rusticone Pizza's … the pizza there is so exquisite!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Where is the furthest you two have traveled together as a couple?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Depends on which side of the world we are on… Italy to Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who has the craziest exes?&lt;br /&gt;I do… I dated some really sad characters!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Who has the worst temper?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I do, it takes a lot for Germy to lose his temper..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Who does the cooking?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;We stay together with my mother in law. She is a good cooker. She cooks with italian style.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Who is the neat-freak?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I'm. Germy love clutter!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Who is more stubborn?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I don't know yet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who wakes up earlier?&lt;br /&gt;Germy...he has to go to work early.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Where was your first date?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Who is more jealous?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Not really an issue with us..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;How long did it take to get serious?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;We didn’t realise we were serious… we just enjoyed each other’s company so we carried on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Who eats more?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Germy always finishes my plate for me, I always out of habit give him the first and last bite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who does the laundry?&lt;br /&gt;I do laundry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Who’s better with the computer?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Germy has a degree in computers! He is a computer technician.  I write my blogs though!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Who drives when you are together?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Out of habit, Germy… I don't get my drive licence yet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phew.. that was a long list of question!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-8129059491636690638?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/8129059491636690638/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=8129059491636690638' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/8129059491636690638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/8129059491636690638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2009/09/my-wedding.html' title='My Wedding'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SsJp17IJThI/AAAAAAAAAtQ/6821EOdVPNc/s72-c/wedding2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-8199020206777130726</id><published>2009-09-26T11:06:00.006+02:00</published><updated>2009-09-26T14:03:34.566+02:00</updated><title type='text'>Mengasah Kedewasaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/Sr4Br_QhkfI/AAAAAAAAAtI/B8MD5Mi2-Mg/s1600-h/meditasi+menatap+matahari.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 176px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/Sr4Br_QhkfI/AAAAAAAAAtI/B8MD5Mi2-Mg/s320/meditasi+menatap+matahari.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385744059608437234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kita bisa belajar dari siapa pun dan di mana pun. Selama kita masih hidup, masih ada kesempatan untuk belajar. Setiap jengkal peristiwa akan memberikan hikmah tersendiri untuk hidup kita. Kita bisa belajar tentang hidup dan kehidupan dari siapa saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya sekolah tempat kita menimba ilmu. Sekolah kehidupan yang butuh proses belajar dan juga mengajar. Semuanya berguna untuk mengasah kedewasaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kehidupan ini tidak selalu menyenangkan. Ada juga hal yang tidak menyenangkan, penderitaan, kegagalan, ketidakmampuan, dan lain sebagainya. Semunya itu mengasah kita untuk berani bersikap dan mau berusaha. Untuk menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah sederhana saya paparkan disini. Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah situs web. Kisah seorang anak kecil dari Cina bernama&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Sun yan&lt;/span&gt;. Dia tidak memiliki kaki dan pinggul. Berjalan hanya dengan kedua belah tangannya. Coba bayangkan betapa menderitanya gadis kecil ini. Ya, dia menderita. Namun di wajahnya tidak terlihat sedikitpun rasa sedih. Selalu terlihat gembira dan tertawa. Bahkan ia melakukan berbagai aktivitas sama seperti anak seusianya. Ke sekolah, mengunjungi orang sakit, dan juga selalu bermain. Akhir ceritabegitu banyak orang yang tersentuh melihat kenyataan ini. Mereka memberinya sepasang kaki palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman ini. Kita bisa memetik satu hal. Di dalam hidup ini kita harus selalu berpikir positif. Berusaha untuk tidak pesimis, menyerah dan putus asa. Merangkul penderitaan yang kita miliki. Dan menikmati betapa indahnya hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hidup ini tidak semuanya selalu benar. Apalagi saat ini muncul berbagai godaan. Consumerisme, kapitalisme, individualisme, dan lain sebagainya. Perlu kita berpikir dewasa. Lebih selektif. Mana yang baik dan mana yang buruk. Tentu saja semuanya ini butuh arahan dari mereka lebih berpengalam dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, menjadi baik saja belum cukup. Tapi harus menjadi yang terbaik. Tentu saja butuh kemauan dalam diri. Kita pasti bisa asalkan ada kemauan. Jika belum berhasil, mencoba lagi dan lagi. Lagi pula dalam hidup ini semuanya butuh proses. kita menjalaninya tahap demi tahap. Rasakan perbedaannya dari setiap tahap yang kita lalui.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-8199020206777130726?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/8199020206777130726/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=8199020206777130726' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/8199020206777130726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/8199020206777130726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2009/09/mengasah-kedewasaan.html' title='Mengasah Kedewasaan'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/Sr4Br_QhkfI/AAAAAAAAAtI/B8MD5Mi2-Mg/s72-c/meditasi+menatap+matahari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-4426001544322846508</id><published>2009-08-21T14:34:00.009+02:00</published><updated>2009-11-19T18:02:37.735+01:00</updated><title type='text'>Virus Chikungunya</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="StarOffice 8 ASUS Edition (Win32)"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt;&lt;/style&gt;&lt;i&gt;Lahewa, desa kelahiran saya, beberapa bulan terakhir ini terjangkit virus Chikungunya. Saya dan keluarga juga terjangkit virus tersebut selama berminggu minggu. Demam tinggi, sakit persendian, adalah salah satu gejalanya.Lebih jelasnya, mari kita telusuri lebih dalam apakah sebenarnya virus chikungunya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Pada tahun 1952 virus chikungunya pertama kali dijumpai di Tanzania &lt;i&gt;(Afrik&lt;/i&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/So6Vua3BaPI/AAAAAAAAAsI/pf9oIypjEsc/s1600-h/chk.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 289px; height: 289px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/So6Vua3BaPI/AAAAAAAAAsI/pf9oIypjEsc/s320/chk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372396030216202482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;a Timur)&lt;/i&gt;. Chikungunya berasal dari bahasa &lt;i&gt;Swahili&lt;/i&gt;. Artinya yang berubah bentuk atau bongkok. Postur badan penderita kebanyakan membongkok akibat kesakitan yang teramat di persendian tangan dan kaki. Virus ini termasuk keluarga Togaviridae, Genus alphavirus, dan dibawa oleh &lt;i&gt;Nyamuk Aedes Aegypti.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Setelah penemuan virus ini di Afrika, epidemik ini berlaku di Filipina (&lt;i&gt;1954, 1956 dan 1968&lt;/i&gt;).  Di  Indonesia (&lt;i&gt;1973&lt;/i&gt;). Thailand, Kamboja, Vietnam, India, Myanmar, Sri Lanka.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Sejak tahun 2003, penyakit ini mulai di akui di kepulauan Lautan Pasifik termasuk Madagascar, Comoros, Mauritius dan La Reunion, dengan jumlah penderita yang meningkat.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Penyakit chikungunya hampir sama dengan demam denggi dan demam denggi berdarah . Karena penyebarnya adalah nyamuk yang sam&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/So6VuyqvToI/AAAAAAAAAsQ/esYZ_LzpMYg/s1600-h/aedes+albopictus.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 232px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/So6VuyqvToI/AAAAAAAAAsQ/esYZ_LzpMYg/s320/aedes+albopictus.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372396036607135362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;a yaitu nyamuk aedes atau aegypti ataupun albopictus. Bedanya, jika virus denggi menyerang pembuluh darah, virus chikungunya menyerang sendi dan tulang. Virus ini juga bukan hanya menyerang manusia namun binatangpun bisa terjangkit penyakit ini.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Masa inkubasi virus ini mencapai 2 hingga 4 hari. Sementara manifestasinya 3 hingga 10 hari.&lt;br /&gt;Nyamuk aedes lazimnya akan menggigit seseorang yang telah dijangkiti oleh virus chikungunya. Dan memindahkan darah kepada mangsa lain yang sehat.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Simptom penyakit chikungunya secara klinikal sangat mirip dengan demam denggi.  Dimulai dengan demam tinggi mencapai 39°C (102.2°F). Badan menggigil kedingina. Sakit ruam pada kaki, tangan dan badan. Kurang selera makan. Perut meragam. Sakit kepala. Mata merah.  Sedikit fotofobia &lt;i&gt;(sensitif terhadap cahaya)&lt;/i&gt;. Badan lemas dan disertai muntah muntah.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Gejala paling biasa adalah sakit persendian (artritis atau atralgia) terutama di ujung jari, pergelangan tangan dan kaki. Atau rasa ngilu pada tulang. Jangkitan chikungunya juga mungkin tidak menunjukkan gejala asimptomatik atau menyebabkan kesakitan yang terus menerus dan gejala yang berpanjangan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Penyakit chikungunya tidak menyebabkan kematian seperti denggi berdarah. Ia dikategorikan sebagai penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya. Dan tidak menyebabkan kematian. Hanya saja virus ini, melemahkan sistem imun tubuh. Dan ini menyebabkan badan mudah dijangkiti oleh penyakit-penyakit lain.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Dalam tempo seminggu, penderita mengalami kelumpuhan sementara. Tidak dapat bergerak ataupun berjalan. Penderita biasanya akan mengalami demam selama 5 hingga 7 hari dan berangsur angsur akan hilang. Ia bagaimanapun boleh berulang kembali. Jangan lupa, chikungunya sekeluarga dengan denggi berdarah. Tambahan pula, gejalanya hampir serupa.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;i&gt;Apakah seseorang dapat terjangkiti virus chikungunya hingga berkali kali? &lt;/i&gt; Individu yang pernah dijangkiti virus ini  akan mendapat daya tahan tubuh yang bertahan lama. Namun beberapa dari mereka mungkin mengalami sakit sendi yang berpanjangan . Dari berminggu hingga berbulan lamanya. Dan akan berulang-ulang dalam tempo yang agak lama. Ini disebabkan oleh reaksi sendi. Bukannya jangkitan virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Apakah seseorang yang telah dijangkiti da&lt;/i&gt;&lt;i&gt;pat menularkan penyakit chikungunya kepada orang lain?&lt;/i&gt; Seseorang yang telah dijangkiti tidak dapat menyebarkan penyakitnya ini secara langsung kepada orang lain. Proses penularannya hanya melalui nyamuk.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Mengenai pengobatanya, tak ada yang jelas obat mana yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Tapi jangan cemas. Asalkan imun tubuh kuat maka penyakit chikungunyapun akan segera menghilang.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Di Indonesia sampai sekarang masih belum ada pencegahan secara aktif terhadap virus chikungunya. Satu satunya cara adalah dengan mengurangi jangkitan nyamuk ke tahap maksimum. Dengan memusnahkan sarang pembiakan larva nyamuk. Juga menutup genangan air. Biasaya pada genangan air bisa hidup larva nyamuk. Ataupun memasukkan ikan merah pada genangan air besar.  &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Di sini saya cantumkan berbagai saran untuk menghindari gigitan nyamuk. Tidur menggunakan kelambu. Memakai baju berlengan panjang terutama ketika berada di luar rumah pada sore hari untuk menghindari gigitan nyamuk aedes. Memasang kawat kasa pada tiap ventilasi jendela. Memakai obat nyamuk lingkaran, elektrik ataupun semprotan racun serangga. Melakukan pergantian udara dengan kipas angin atau AC. Juga dengan memakai krim anti nyamuk.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;i&gt;Mari bersama sama, menjaga lingkungan yang bersih. Bebas nyamuk dan bebas dari penyakit.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0.5cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Referensi: &lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Parola P, de Lamballerie X, 	Jourdan J, et al. Novel Chikungunya virus variant in travelers 	returning from Indian Ocean islands. Emerg Infect Dis 	2006;12:1493-1499&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Lam SK, Chua KB, Hooi PS, 	Rahimah MA, Kumari S, Tharmaratnam M, Chuah SK, Smith DW and Sampson 	IA. Chikungunya infection--an emerging disease in Malaysia. 	Southeast Asian J Trop Med Public Health 2001; 32: 447-451&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Rémi N. Charrel, Xavier 	de Lamballerie, and Didier Raoult. Chikungunya Outbreaks — The 	Globalization of Vectorborne Diseases. NEJM 2007; 356:769-771&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Chabra M, Mittal V, 	Bhattacharya D, Rana U, Lal S. "Chikungunya fever: A 	re-emerging viral infection". Indian J Med Microbiol 2008; 26: 	5–12&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Simon F, Parola P, Grandadam M, 	Fourcade S, Oliver M, Brouqui P, Hance P, Kraemer P, Ali Mohamed A, 	de Lamballerie X, Charrel R, Tolou H. "Chikungunya infection: 	an emerging rheumatism among travelers returned from Indian Ocean 	islands. Report of 47 cases". Medicine (Baltimore) 2007; 86: 	123–37&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Taubitz W, Cramer JP, Kapaun A, 	Pfeffer M, Drosten C, Dobler G, Burchard GD, Löscher T. 	"Chikungunya fever in travelers: clinical presentation and 	course". Clin. Infect. Dis 2007; 45: e1–4&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Fact Sheets on Chikungunya. Centers for Disease Control 	and Prevention, USA&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-4426001544322846508?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/4426001544322846508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=4426001544322846508' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/4426001544322846508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/4426001544322846508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2009/08/virus-chikungunya.html' title='Virus Chikungunya'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/So6Vua3BaPI/AAAAAAAAAsI/pf9oIypjEsc/s72-c/chk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-23447418678282083</id><published>2009-07-23T14:17:00.009+02:00</published><updated>2010-01-28T14:37:59.358+01:00</updated><title type='text'>Back to the Village</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S2GTGgRiusI/AAAAAAAAAto/KqdRu0GhkcU/s1600-h/lahewa"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S2GTGgRiusI/AAAAAAAAAto/KqdRu0GhkcU/s320/lahewa" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431784365537540802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; "&gt;&lt;i&gt;Beep! !beep! beep! The bell sings as I edge my tire through a group of barking dogs. I lean into the old, creaking motorcycle and grind the gears. I'm going no faster than a duck's waddle. Here in the village is the peace of life&lt;/i&gt;...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/i&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;As I roll out of the city (Gunungsitoli), I'm quickly wrapped in lovely, blue bliss. The city fades away, leaving me the gem of village life. Welcome to my great village. “I'm finally at home!”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;This time I'm going to show you something diffeerent. Showing you the beauty of nature. And showing you day to day life in the village is like. “Come on, let's see!”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Let's go to the beach,” says my little brother. “It's our lucky day,”he adds and points to the blue sky. It's not raining. So we can go out and see everything so clearly.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Soon after we are leaving home. By motorcycle. Soon we're entranced by the beauty of coconut field. The coundles farmers planting crops . And gleeful schoolchildren; some are walking and the other are riding by on chinese -made bikes.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;We are on the beach. Turegalõkhõ Beach. We are among of big coral stone. The beach is so fantastic. Beautiful!. Soon after taking pictures we are going back home.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Going back home, we are passing by a well decorated house surrounded by well dressed people. “It's a wedding party,”says my little brother.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;With the permission of someone, we are let into the kitchen area to see the massive food preparation. Here, we can see what goes on behind the scenes. There are some people who prepare Rendang (meat with curry), Cincang (meat with blood), and some others food. While the other busy to cook rice and prepare some decoration for the house.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Later we're taken to meet the bride, dressed exquisitely and tense nervousness. We wish her good luck and peddle on.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Our next stop is walking to the plantation of rubber trees. Seeing how they work to get the sap from the rubber tree. First, you have to tap the tree to extract the sap. Then wait for days.Let it falling down into a container. Then the sap will be hard ready to sell.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Our next stop put us into the middle of a rice field where the villager put their hand at producing mud bricks. A villager scoops the mud from a hole and slops it into a brick mold. Then smoothed them out and removed the mold – leaving monderfully misshapen bricks next to his perfectly rectangularones.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;And so the tour continues with stops including seeing how rice is threshed, dried and processed. Observing how and where livestock is kept. And a lunch stop consisting of traditional foods with a question and answer period in which I fields the queries on religion, dating, environmental concerns and genetically modified crops.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Here in the village, you can see manything interesting. Quaint houses with well swept yards. Small, with sago palm roof. Gurgling canals carrying water to thirsty crops. A girls gathering flower in a small, fenced in cemetary. Bleating pigs in pens.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Squabbling chickens. Stopped old women going somewhere slowly. Men hammering tock!tock!tock! On a roof. A naked toddler playing in the dirt. Smoking granddads and nursing mother. These scenes float by as we make you way through &lt;span style="font-style: italic; "&gt;the kampung &lt;/span&gt;(village).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; "&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;By the time we return back home, all the experiences to day was an incredible experience!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:'Trebuchet MS', sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }   P { margin-bottom: 0.21cm }  --&gt;&lt;/style&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-23447418678282083?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/23447418678282083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=23447418678282083' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/23447418678282083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/23447418678282083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2009/07/back-to-village.html' title='Back to the Village'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S2GTGgRiusI/AAAAAAAAAto/KqdRu0GhkcU/s72-c/lahewa' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-2894894638021140326</id><published>2008-11-28T12:22:00.031+01:00</published><updated>2010-03-16T19:55:45.042+01:00</updated><title type='text'>Natal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S5_UI7QzVhI/AAAAAAAAAtw/c0r_m1ClIwc/s1600-h/natal.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 203px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S5_UI7QzVhI/AAAAAAAAAtw/c0r_m1ClIwc/s320/natal.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5449307323953796626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;BEBERAPA hari lagi natal akan tiba. Umat kristiani mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Ada yang sibuk menulis kotbah terbaik. Sibuk membeli hadiah Natal. Ada pula yang sibuk dengan kegiatan gerejawi yang amat melelahkan. Namun di balik semuanya itu, mari merenung sejenak. Apakah Natal itu hanya sekedar kotbah, hadiah, ataupun kesibukan yang melelahkan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologis, natal memiliki arti harafiah “lahir” atau “kelahiran”. Amatlah penting bagi umat kristiani, mengenal sejarah lahirnya Yesus dua ribu tahun lalu. Ini sama pentingnya dengan lahirnya Yesus di dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apa maksudnya lahirnya Yesus di dalam hidup kita? &lt;/span&gt;Di sini saya tidak berbicara secara teologi, karna saya bukan seorang teolog. Ataupun bercerita panjang lebar mengenai sejarah asal usul natal, karna itu hanya akan tersimpan di dalam kepala saja. Bagi saya yang terpenting, bagaimana kita bisa mengerti makna natal yang sebenarnya. Bagaimana kita bisa berbuat supaya Yesus bisa lahir dan hadir di dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya Yesus dalam kehidupan kita berarti menempatkan Dia menjadi fokus  utama. Berarti kita tidak lagi memikirkan diri sendiri. Kita belajar untuk memikirkan Yesus. Tidak memikirkan diri sendiri. Belajar untuk merubah diri. .Berbuat baik. Dan mengasihi orang lain. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, natal menjadi sekedar rutinitas setiap tahun. Amat disayangkan. Seringkali natal terwujud dalam bentuk kemewahan dan pesta pora. Bahkan juga kita seringkali terlalu mengagungkan natal dengan kotbah terindah. Baju terbaru. Hadiah termahal, yang dilakukan hanya demi gengsi. Ataupun kegiatan gerejawi yang amat melelahkan, yang membuat kita  merasa pusing tujuh keliling. Emosi tak terkendalikan. Amarah yang selalu meledak dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, saya ajak Anda untuk merefleksi diri. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Apakah anda sudah mendalami makna natal yang sesungguhnya? Sudahkah anda merubah diri sendiri? Apakah anda sudah berhenti dalam kepura puraan?&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masih belum. Masih ada waktu untuk merubah diri. Mulailah dengan mengendalikan diri. Emosi juga amarah. Berhentilah untuk melihat keburukan orang lain. Maafkanlah orang yang pernah menyakiti anda. Berusahalah untuk selalu bersikap positif akan segala sesuatu. Bantulah yang kesusahan.Mari memberikan kehangatan buat diri kita juga buat orang disekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaatkanlah setiap kesempatan untuk merubah diri. Jadikanlah natal semakin berarti. Jadikanlah natal bukan hanya 25 Desember saja. Tetapi natal yang seharusnya dilakukan sepanjang hari. Sepanjang tahun. Sepanjang masa. Dan sepanjang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkanlah diri menjadi “Hadiah Natal” yang terindah buat orang lain. Biarkanlah diri hadir sebagai sahabat. Sahabat yang bukan hanya hadir pada tanggal 25 Desember saja. Namun sahabat yang hadir setiap saat. Dalam suka, maupun duka.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-2894894638021140326?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/2894894638021140326/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=2894894638021140326' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/2894894638021140326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/2894894638021140326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/11/natal.html' title='Natal'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S5_UI7QzVhI/AAAAAAAAAtw/c0r_m1ClIwc/s72-c/natal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-1027755875172720872</id><published>2008-11-15T11:54:00.019+01:00</published><updated>2009-10-28T17:04:23.231+01:00</updated><title type='text'>Bapak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/StnccDIbRpI/AAAAAAAAAtg/CgUGAGjWwgc/s1600-h/bapak.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 197px; height: 227px;" src="http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/StnccDIbRpI/AAAAAAAAAtg/CgUGAGjWwgc/s320/bapak.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393584403187975826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Banyak hal yang dapat kukenang dari bapak. Orang nya sederhana. Selalu setia dengan sepeda tuanya. dan hal yang terpenting, bapak selalu menerapkan nilai moral, kepada siapa saja yang ia temui.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak dulunya seorang guru. Sebuah  kota kecil di Gunungsitoli, Nias, Indonesia. Ia pernah mengajar di SMP Negeri 1 (jadwal pagi hari). Dan sebagai tim pengajar, di yayasan pendidikan guru agama (jadwal sore hari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi bapak mengayuh sepeda tuanya ke sekolah. Tak pernah lelah. Panas terik. Dinginnya guyuran hujan, tak ia pedulikan. Bagi bapak, lelah sebagai guru bukan hanya untuk mendapatkan gaji setiap bulan. Namun demi menanamkan ilmu. Demi memberi nilai moral kepada generasi muda. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“...saya ingin menanamkan nilai moral kepada murid saya. Ini membantu mereka dalam menentukan sikap. Di dalam hidup mereka,”&lt;/span&gt; demikian ungkap Bapak suatu ketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak orang nya pendiam. Tidak begitu banyak bicara. Bagi bapak, setiap kata yang diucapkan harus diwujudkan dengan perbuatan. Pernah bapak di tawarkan untuk naik pangkat. Namun dengan sogokan. Bapak menolak habis habisan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“ini tidak jujur”,&lt;/span&gt; ungkap Bapak dengan nada keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak paling benci kemunafikan. Terutama bila melihat orang yang kelihatan terlalu agamais. Ataupun terlalu banyak bicara. Namun tanpa perbuatan. Seringkali Bapak menghindar untuk bertemu dengan orang tersebut. Namun apabila bertemu dengan mereka Bapak selalu menunjukkan sikap. Sebuah kata harus seiring dengan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak senang membantu orang lain. Pernah saudara dari bapak membutuhkan bantuan uang. Pada saat itu bapak tidak memiliki uang sebesar yang diinginkan saudaranya. Namun untuk tidak mengecewakannya, bapak meminjam uang kepada orang lain. Dimana setiap bulan bapak rela melunasi utang saudaranya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak tidak pernah meminta kan kembali uangnya. Tapi kalau orang tersebut sadar untuk mengembalikan utangnya. Bapak menerimanya dengan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak orangnya tenang. Selalu tersenyum ramah. Hampir tidak pernah marah. Bisa dihitung dengan jari berapa kali bapak marah. Namun jika bapak marah, semuanya gemetar dan kaku. Tak ada yang berani berkata kata. Tapi jika bapak marah, ia selalu bisa mengendalikan diri. Selalu menjaga emosi. Ketika amarah Bapak hilang, biasanya dia minta maaf. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“...selesai marah, bapak selalu minta maaf,”&lt;/span&gt; jelas Ibu mengenang Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi bapak, anak anaknya adalah segalanya. 3 putra dan 1 putri yang ia miliki. Untuk anaknya, bapak selalu menanamkan nilai nilai agama. Bapak ingin agar anak anaknya memiliki sifat yang baik. Dan selalu berjiwa sosial. Seperti dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak orangnya amat sederhana. Selalu bangga dengan sepeda tuanya. Kenangan manis dengan sepeda tua itu selalu ada. Ketika aku masih kecil, bapak selalu mengantarku ke sekolah. Menjemputku dengan setia, setiap pulang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak aku dewasa, bapak selalu sakit sakitan. Badan Bapak selalu lemas. Namun jiwa dan semangat Bapak selalu berkobar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bapak pensiun, kami pindah ke desa kelahirannya (Lahewa, Nias). Bagi bapak desa itu adalah segalanya. Segala kenangan masa kecil terukir indah disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak amat menyukai desa kelahirannya. Di sekitar rumah, Bapak sudah memenuhi halaman rumah dengan tanaman coklat. Bapak ingin menjadi petani coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir kali berjumpa dengan bapak  sebelum aku berangkat ke Filipina. Saat itu bapak terlihat amat berat melepaskanku. Aku bisa menangkap kepedihan di wajah bapak.Walaupun beban itu tersembunyi di balik senyumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan bapak makan siang bersama saat itu. Di sebuah restoran kecil di Lahewa. Tak ada kata yang muncul. Hanya senyuman di wajah Bapak. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“hati hati”&lt;/span&gt;, ucap Bapak sebelum aku pergi. kata inilah yang terakhir kali   kudengar dari Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melepas putri satu satunya. Memang berat buat Bapak. Namun ini kulakukan demi untuk mengembangkan diri. Di negeri orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak meninggal dunia (26/06/2005). Berita ini kudengar ketika aku masih di Italia. Betapa hancur hatiku saat itu. Aku menangis sekuat tenaga. Walau bagaimanapun aku tidak bisa berbuat apa apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera aku pulang ke Indonesia. Aku tiba di Lahewa akhirnya, setelah 4 hari dalam perjalanan. Sesampai di rumah, tangisku tak tertahankan lagi. Tubuh Bapak kaku. Namun wajah itu terlihat tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang bapak telah pergi. Nilai kehidupan yang bapak tanamkan tetap melekat. Di hatiku. Hati murid muridnya. Di hati siapa saja yang mengenal beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku bapak selalu dekat disisiku. Selalu mengiringi setiap langkahku. Membantuku di saat ku susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bapak kini engkau menjadi malaikatku&lt;/span&gt;.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Aku selalu mencintaimu. Berdoa untukmu.Kasih yang engkau tanamkan selalu tinggal di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ingatkah engkau dengan kebun coklatmu? sekarang semakin menghasilkan buah banyak.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-1027755875172720872?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/1027755875172720872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=1027755875172720872' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/1027755875172720872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/1027755875172720872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/11/bapak.html' title='Bapak'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/StnccDIbRpI/AAAAAAAAAtg/CgUGAGjWwgc/s72-c/bapak.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-2235903996577032113</id><published>2008-11-11T13:17:00.016+01:00</published><updated>2008-11-13T17:20:10.724+01:00</updated><title type='text'>Sebuah senyuman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SRxTrprLXVI/AAAAAAAAAhY/WiG1skGoC7E/s1600-h/PhotoFunia_28e84.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 298px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SRxTrprLXVI/AAAAAAAAAhY/WiG1skGoC7E/s320/PhotoFunia_28e84.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268177673503071570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Begitu banyak orang belum mengetahui efek ampuh dari sebuah senyuman. Senyuman bisa menghadirkan suasana ceria buat orang lain. Bisa juga membantu diri sendiri. Meringankan beban hidup yang dialami. Sebuah senyuman bisa menciptakan kebahagiaan buat kita. Juga buat orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jeannie Marshall &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Konsultan Perkembangan Diri, Canada)&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“sebuah senyuman bisa membuat segala sesuatu menjadi mudah...”&lt;/span&gt;. Dengan tersenyum, kita bisa melupakan rasa sedih yang dialami. Hidup menjadi ceria kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di italia, beberapa dokter sudah mempraktekkan manfaat dari sebuah senyuman. Mereka mendirikan yayasan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Badut Terapi”.&lt;/span&gt; Dimana para dokter berwajah seperti badut ketika berhadapan dengan pasiennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Roberto Gorgetti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Direktur Rumah Sakit Anak, Italia)&lt;/span&gt; mengatakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dengan tersenyum, si anak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(pasien)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; menjadi tidak takut akan suntikan jarum”.&lt;/span&gt; Dr. Roberto adalah dokter pertama yang mepraktekkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Badut Terapi”&lt;/span&gt; ini. Para dokter ini telah berhasil mendapatkan kontak bathin dengan pasien. Berhasil menyembuhkan pasiennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah senyuman bisa membantu meningkatkan kekebalan tubuh. Ini terjadi mungkin saja karena tubuh menjadi lebih rileks. Bahkan dengan tersenyum dapat membantu mencegah gejala influenza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyuman bahkan dapat menghilangkan stres. Jika anda sedang stres. Pasti amat sulit untuk tersenyum. Wajah menjadi kelihatan letih lesu. Tapi jika anda mencoba untuk tersenyum. Maka tanpa anda sadari, stres yang anda rasakan sebelumnya akan segera hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah yang selalu tersenyum akan terlihat selalu muda. Kelihatan selalu ceria. Senyuman membantu tubuh untuk kelihatan selalu gembira. Senyuman menghilangkan suasana hati yang sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk anda, biasakanlah diri untuk tersenyum.Senyuman yang anda lontarkan membantu orang lain untuk selalu gembira. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tersenyumlah maka orang lain akan senang bersahabat dengan anda!***&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-2235903996577032113?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/2235903996577032113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=2235903996577032113' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/2235903996577032113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/2235903996577032113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/11/masih-begitu-banyak-orang-memiliki.html' title='Sebuah senyuman'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SRxTrprLXVI/AAAAAAAAAhY/WiG1skGoC7E/s72-c/PhotoFunia_28e84.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-703527288350625267</id><published>2008-11-08T16:14:00.010+01:00</published><updated>2008-11-13T12:31:48.632+01:00</updated><title type='text'>Mas Obama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SRlcx4JmkYI/AAAAAAAAAeY/apofFBHaOYQ/s1600-h/PH2008051902122.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 233px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SRlcx4JmkYI/AAAAAAAAAeY/apofFBHaOYQ/s320/PH2008051902122.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267343251142513026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;Barack Obama terpilih menjadi presiden ke - 44 Amerika Serikat. Lelaki tinggi, berdarah Kenya Amerika ini menjadi sorotan hangat media masa.&lt;br /&gt;Berbagai politikus di seluruh dunia angkat bicara. Ada yang pro. Ada pula yang kontra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat Amerika sudah lama menanti suatu perubahan buat negara paman Sam ini. kini harapan sepenuhnya terletak di tangan mas Obama. Selamat berjuang mas!&lt;/span&gt; Yes, you can change America!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-703527288350625267?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/703527288350625267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=703527288350625267' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/703527288350625267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/703527288350625267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/11/mas-obama.html' title='Mas Obama'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SRlcx4JmkYI/AAAAAAAAAeY/apofFBHaOYQ/s72-c/PH2008051902122.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-7800138565408385772</id><published>2008-10-30T12:10:00.011+01:00</published><updated>2008-11-17T16:10:24.849+01:00</updated><title type='text'>Orang tua dan anak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SSGIT25eyTI/AAAAAAAAAiA/YMi6QlJiss8/s1600-h/S7300827.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 261px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SSGIT25eyTI/AAAAAAAAAiA/YMi6QlJiss8/s320/S7300827.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269642913735690546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang tua adalah figure utama dalam kehidupan seorang anak. Tidaklah mudah bagi para orangtua untuk mendidik anak mereka. Terutama di negara yang serba “canggih” dan “wah”. Namun semuanya terletak pada kemauan dari si orang tua. Sanggupkah menjadi teladan bagi si anak?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik seorang anak adalah merupakan seni tersendiri. Banyak orang tua tidak mengerti seni dalam mengasuh seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penelitian, sepertiga orangtua yang memiliki bayi ternyata memiliki sedikit pengetahuan tentang perkembangan anak.&lt;br /&gt;Hasil penelitian yang dipresentasikan Pediatric Academic Societies di Honolulu menunjukkan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“para orangtua tidak mengerti konsep dasar tentang apa yang seharusnya diketahui anak mereka”&lt;/span&gt;. Lebih jauh lagi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“mereka (orang tua) tak tahu bagaimana seharusnya bertindak kepada anak mereka”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Kurangnya pemahaman yang memadai tentang perkembangan seorang anak bisa menyebabkan berbagai masalah,”&lt;/span&gt; kata Paradis, dokter anak di University of Rochester Medical Center, New York. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“... seorang ibu akan berharap anaknya yang berumur 18 bulan hanya duduk tenang sambil menunggu antrean dokter di klinik. Padahal anak seumur itu biasanya penuh ingin tahu.Ingin menjelajah ke mana-mana,”&lt;/span&gt; lanjut Paradis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu peranan dan fungsi orang tua amat di harapkan. Di rumah, orang tua seharusnya menampilkan hal yang positif.  Rumah merupakan tempat pertama di mana anak memperoleh ilmu. Di rumah anak dapat belajar tentang banyak hal yang mendasar. Ilmu yang ia peroleh di rumah merupakan fondasi bagi hidup anak di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua harus selalu mengajarkan hal-hal yang baik kepada anak sejak ia masih kecil.  Ini akan menjadi suatu kebiasaan hingga ia dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang tua salah dalam mendidik anak mereka. Terkadang kasih sayang orang tua ditunjukkan dengan hadiah yang berlebihan. Hal ini sama sekali tidak membangun perkembangan si anak. Mainan yang berlebihan, komputer atau pun hp &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(handphone)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Amat disayangkan, kebanyakan orang tua di sini (Italia) selalu memenuhi semua permintaan si anak,”&lt;/span&gt;  ungkap Gioconda Ardovino seorang nenek dari Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala permintaan si anak dipenuhi.  Anak menjadi terbiasa memiliki segalanya. Tapi coba anda renungkan, kelak jika si orang tua tidak sanggup lagi untuk memenuhi kebutuhan si anak. Apakah yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memenuhi kebutuhannya, bisa saja si anak menjadi pencuri. Melakukan tindakan kekerasan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orangtua seharusnya menyadari bahwa kasih sayang yang sejati dapat diwujudkan  melalui norma agama dan sosial. Ini seharusnya ditanamkan sejak dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih sayang juga dapat diperlihatkan baik secara fisik atau dengan kata-kata. Walau apapun latar belakang dan pengalaman hidup dari si orang tua, pasti akan berusaha memberi teladan yang baik. Melalui hubungan pernikahan yang sehat. Mengasihi anak-anaknya tanpa pamrih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak pasti sangat senang jika melihat orang tuanya saling mengungkapkan kasih melalui tindakan. Seperti ciuman ataupun pelukan yang hangat. Atau si anak melihat kedua orang tuanya saling berbaikan kembali, setelah terjadi silang pendapat yang tak terhindarkan. Melalui hal itu mereka akan mendapat pelajaran yang sangat berharga mengenai hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, kepada para orang tua, ungkapkanlah kasih sayang anda sesungguhnya buat si buah hati.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulisan ini saya persembahkan buat Eva de Rosa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Italia)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; dan bayi pertamanya, Luca.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-7800138565408385772?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/7800138565408385772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=7800138565408385772' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/7800138565408385772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/7800138565408385772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/10/orang-tua-dan-anak.html' title='Orang tua dan anak'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SSGIT25eyTI/AAAAAAAAAiA/YMi6QlJiss8/s72-c/S7300827.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-605953048853104457</id><published>2008-07-28T08:48:00.003+02:00</published><updated>2010-04-23T13:41:06.063+02:00</updated><title type='text'>Sekadar Berbagi: Belajar Menulis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S9GHHd199VI/AAAAAAAAAuY/8teRGIV0hHQ/s1600/veronika.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 171px;" src="http://2.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S9GHHd199VI/AAAAAAAAAuY/8teRGIV0hHQ/s320/veronika.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463296385316943186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Jangan pernah remehkan diri Anda. Bisa saja Anda punya talen yang tidak tergali. Talen itu bisa digali kok. Dia (talen ) hanya butuh waktu dan dukungan. Butuh orang lain untuk mengasahnya. Butuh suasana untuk mempertajam. Pengalaman – pengalaman itu yang nanti membentuk talen yang ada pada Anda.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini ini adalah hari terakhir saya bekerja untuk Caritas Keuskupan Sibolga (CKS). Hari ini saya ingin bercerita kepada Anda. Cerita itu tentang suka duka selama 10 bulan bekerja didunianya sosial worker (&lt;i&gt;pekerja sosial&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan perjalanan ini bermula pada awal Oktober silam &lt;i&gt;(2007)&lt;/i&gt;. Senen itu saya mulai bekerja di bagian komunikasi dan Advokasi. Pekerjaan itu bagai seonggok buku tebal yang harus dipelajari. Semuanya terlihat begitu terasa asing bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan saya bekerja, nama nya Erix Hutasoit. Dia orang batak yang lebih suka dipanggil sebagai orang Indonesia. Rambut nya pendek. Gaya bicaranya ceplas ceplos. Dia suka humor. Tapi dia orang keras. Terutama dengan idealisme nya. Dia tak mau didikte siapapun. Termasuk oleh orang yang menggajinya.&lt;i&gt;” Aku bekerja dibidang ini karena idealisme ku yang membawa. Bukan karena uang...,”&lt;/i&gt; katanya menyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erix suka bicara soal jurnalistik. Katanya dia kenal baik dengan ilmu itu. Tiap hari dia mengucapkan istilah yang tak pernah saya dengar sebelumnya. Features, lead, by line, piramida terbalik, head line, block style dst. Dia bahkan sering mengomel lantaran bahasa Indonesia saya yang buruk.&lt;i&gt;” Vero, apa-apaan ini...,”&lt;/i&gt;ucapnya ketus kala mengomentari tulisan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis ternyata bukan pekerjaan gampang. Walau bentuknya hanya selembar kertas. Tapi proses pembuatannya membutuh tenaga, waktu dan pengetahuan yang luar biasa. Tidak cukup hanya duduk dibelakang meja. Atau membaca buku-buku. Tulisan harus punya roh. Itu bagian yang paling sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari roh tulisan, itu jadi kerjaan rutin saya. Saya harus rajin membaca dan mengumpulkan bahan cerita. Berkaki telanjang menelusuri desa tak dikenal demi sebuah informasi. Berbincang-bincang dengan warga desa yang bahasa nya sulit saya mengerti. Bercanda dengan orang banyak sambil berbagi informasi. Bertanya, menyimak dan berusaha merasakan kepedihan hidup yang dialami lawan bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak cerita yang didapat. Tapi bentuknya masih berantakan. Seperti dokumen yang berserakan dilantai. Cerita-cerita itu harus dikumpulkan dan &lt;i&gt;“dijahit”&lt;/i&gt; menjadi satu cerita utuh. Proses menjahit ini lah yang paling menjemukan sekaligus menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerumitan dimulai dari awal paragap. Kalimat pertama itu seperti pintu masuk ke rumah besar. Kalau tak ketemu pintunya, maka tak bisalah masuk. Puluhan kali kalimat dan kata harus di bongkar pasang. Kurang satu kata saja, semua terasa hambar.&lt;i&gt; Piuh..&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terhitung dengan jari, berapa kali saya melakukan kesalahan. Kalimat tidak nyambung lah. Cara penulisan salah. Dan yang paling sering, saya mentok karena kehabisan ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itulah seni nya belajar menulis. Ilmu nya ada pada kesalahan-kesalahan itu. Si Erix kerap menyakinkan saya untuk tidak berhenti menulis. Walau dia selalu memarahin saya. Tapi dia tetap mengajari saya untuk memperbaikinya. Dia selalu bilang,&lt;i&gt;” Banyak belajar lah dengan sering menulis…”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari hari yang ada hanya latihan. Mengasah kepekaan terhadap orang lain. Menempatkan diri sebagai orang lain. Meraba perasaan mereka. Setelah itu memainkan imajinasi yang ada. Dan menuangkannya di dalam tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin sering menulis. Semakin terasa kekurangan yang ada. Imajinasi liar semakin terlihat. Imajinasi yang mampu menangkap suasana batin orang yang kita ceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan yang lalu. Seorang teman yang pernah bekerja di majalah Tempo mengatakan,&lt;i&gt;”Wah ini Veronika yang saya kenal atau siapa ya...”&lt;/i&gt;. Sejak itu saya baru sadar kalau saya sudah berubah kini. Tulisan saya ternyata tidak seperti dulu lagi. &lt;i&gt;“Tulisan mu sudah sangat baik sekarang…,”&lt;/i&gt; kata Erix memuji ku di hari terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut James Allen dalam buku As a man think, &lt;i&gt;“pikiran kita itu seperti taman; mereka bisa bertumbuh kala kita merawat akar nya.”&lt;/i&gt; Demikian hal yang saya alami. Untuk membangkitkan talen itu, hanya bisa dengan membiasakan diri menulis. Ini merupakan hal yang kecil. Namun telah menjadi hal yang paling berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Barbara Dettori, Meilina Perangin Angin, Erix Hutasoit, Asteria Dawolo, Elisabeth Hutajulu, Yunita Sembiring, Roy Marbun, Irene Harefa, Suiyan Dachi, Aktivitas Sarumaha, Royn Silaen, Pak Yusuf, Ibu Marina, ... semuanya yang lupa saya sebutkan namanya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks for all, I Love you all!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-605953048853104457?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/605953048853104457/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=605953048853104457' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/605953048853104457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/605953048853104457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/07/sekadar-berbagi-belajar-menulis.html' title='Sekadar Berbagi: Belajar Menulis'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S9GHHd199VI/AAAAAAAAAuY/8teRGIV0hHQ/s72-c/veronika.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-5274665609871972017</id><published>2008-07-23T06:15:00.004+02:00</published><updated>2010-04-23T13:45:26.069+02:00</updated><title type='text'>Maaf</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S9GIUfJH-KI/AAAAAAAAAug/H9XnQHIRSaQ/s1600/tangan.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 153px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S9GIUfJH-KI/AAAAAAAAAug/H9XnQHIRSaQ/s320/tangan.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463297708515653794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Siapa saja pasti pernah merasakan sakit hati. Entah itu karena ditinggal kekasih. Entah karena dikhianati teman. Atau mungkin karena disepelekan atasan. Tapi tahukah Anda. Kalau rasa sakit hati itu bisa disembuhkan. Kuncinya adalah diri Anda sendiri. Tinggal sekarang, apakah anda mau memaafkan orang itu?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh: Veronika Lase&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaafkan itu bukan sekadar perasaan, tetapi sebentuk tindakan. Memaafkan datang dari kemauan diri sendiri. Kemauan untuk melupakan kesalahan orang yang pernah menyakiti kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa beberapa hari ini timbul dipikiran saya, untuk memaafkan seorang yang pernah menyakiti saya. Inspirasi itu lah yang mendorong saya membagi tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali saya bertanya dalam hati ,&lt;i&gt;”Apakah kata kasih yang sering saya ucapkan selama ini hanya sekedar ucapan belaka?”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Sebegitu sempurnanya kah saya sehingga sulit untuk memaafkan orang lain?”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau betul kasih itu bukan sekadar kata-kata. Maka saya harus sanggup membuktikan kasih dengan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chiara Lubich &lt;i&gt;(pendiri gerakan Focolare)&lt;/i&gt; dalam tulisan nya mengatakan,&lt;i&gt;“kita seharusnya melihat orang lain selalu dengan mata yang baru”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sangat menggugah hati saya. Kata-kata ini membantu saya melupakan kesalahan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelas, sekilas saya paparkan pengalaman pribadi. Pengalaman yang membantu merubah diri. Pengalaman yang paling berharga dan tak kan saya lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu saya tinggal serumah dengan seorang sahabat. Di awal persahabatan semuanya terlihat indah. Kami saling membagi. Suka maupun duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama bersahabat, saya merasakan ketidakcocokan. Si sahabat seringkali terlihat cemberut. Tak jarang dia berkata ketus dan kasar. Maaf, di sini saya tidak berhak sedikitpun untuk memaparkan lebih banyak sifat negatif sahabat saya. Karena saya juga memiliki kekurangan. Sama seperti dia. Saya hanya ingin menonjolkan satu sisi yang mungkin bisa membantu siapa saja. Usaha saya untuk bisa memaafkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa waktu lamanya, kami tidak bertegur sapa. Di depan orang kami hanya berpura pura saling mesra. Hal ini membuat saya seringkali menangis karna tidak tahu harus berbuat apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, secara teori saya mengerti bagaimana cara nya memaafkan. Dengan menyapa. Meminta maaf. Ataupun dengan menghilangkan rasa sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini begitu banyak buku beredar yang mengeluarkan trik jitu untuk memaafkan orang lain. Namun tanpa praktek semuanya terlihat nihil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa saya pungkiri. Ternyata pada praktek saya tidak sanggup memaafkan. Terlalu sulit. Setiap kali saya bertemu dengan sahabat itu. Rasa yang ada hanya lah : benci. Ingin rasanya selalu menghindar, agar tidak berjumpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kata kata Chiara Lubich&lt;i&gt;,“...melihat orang lain dengan mata yang baru,”&lt;/i&gt; membantu saya untuk membuat langkah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi, saya selalu berusaha tersenyum buat sang sahabat. Sewaktu berjumpa, saya ucapkan ,&lt;i&gt;”Hai”&lt;/i&gt; kepada nya. Pertama kali terasa begitu hambar. Bahkan terasa risih. Karena si sahabat itu seperti tidak acuh. Seringkali rasa angkuh yang muncul kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ngapain saya cape menyapa, sedangkan dia aja tidak peduli,”&lt;/i&gt; suara ini terdengar di benak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ego inilah yang harus saya kalahkan. Saya harus mengalahkan diri sendiri. Dan percaya, saya pasti mampu melakukannya. Walaupun butuh waktu lama dan proses panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir satu bulan. Bagaikan disambar petir di siang hari. Sang sahabat mulai menyapa. Walaupun cuma kata,&lt;i&gt;“Halo”&lt;/i&gt;. Tak terbayangkan betapa bahagianya saya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman itu sangat berharga bagi saya. Walau harus dibayar mahal dengan mengalahkan ego sendiri. Membunuh rasa angkuh. Menghapuskan rasa sakit hati yang terpendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaafkan orang lain itu, seperti membebaskan diri dari bayangan sakit hati. Kisah ini membantu saya dalam menghadapi pelbagai masalah hidup. Walau saya menyadari bahwa semua itu butuh waktu dan proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak kisah yang lain. Yang mungkin lebih tragis dan menyedihkan dari kisah yang saya tulis ini. Tapi saya sengaja tidak menuliskannya. Saya sekedar ingin membuktikan, betapa besarnya manfaat memaafkan orang lain buat diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tulisan sederhana ini saya tutup dengan pertanyaan untuk Anda. &lt;i&gt;“Maukah Anda memaafkan orang yang pernah menyakiti anda?”.***&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-5274665609871972017?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/5274665609871972017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=5274665609871972017' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/5274665609871972017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/5274665609871972017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/07/maaf.html' title='Maaf'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/S9GIUfJH-KI/AAAAAAAAAug/H9XnQHIRSaQ/s72-c/tangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-4440269374635679365</id><published>2008-06-17T08:16:00.001+02:00</published><updated>2010-04-23T16:02:48.021+02:00</updated><title type='text'>REFRESHING</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/__9jdTzMYkQ8/SFdZO3btFDI/AAAAAAAAAD0/fSsP9j5Q0lQ/s1600-h/080124_CKS_20CO_Amandraya_I+%2810%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/__9jdTzMYkQ8/SFdZO3btFDI/AAAAAAAAAD0/fSsP9j5Q0lQ/s320/080124_CKS_20CO_Amandraya_I+%2810%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212733205637829682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;MENCOBA sesuatu yang baru tidak harus mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah. Tidak pula harus ke luar negeri. Cukup di sekitar kita saja. Tidak harus ke tempat yang serba artificial. Tempatnya alami. Tempat yang tidak dipajaki. Tempat di mana bisa bergembira, bercerita, dan berteriak dengan lepas.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi&lt;i&gt; ( 07/06/06)&lt;/i&gt;, saya terlihat sibuk dengan handphone. Suara telfon seringkali terdengar. Teman berencana mengajak saya untuk mencoba sesuatu yang lain. Mencicipi sesuatu yang luar biasa. Mencicipi daging ular!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harganya tidak terlalu mahal. Satu porsi hanya Rp. 8.000. Ini sudah termasuk 1 piring nasi putih. Tempatnya juga tidak terlalu jauh. Cukup dengan menempuh 45 menit dari Gunungsitoli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa penasaran ini membuat saya ikut bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak teman yang diajak akhirnya 5 orang yang menyempatkan diri ikut. Elisabeth Hutajulu, Yunita Sembiring dan Oktafianus &lt;i&gt;(teman kerja)&lt;/i&gt; berangkat dengan kendaraan roda dua. Saya dan Tumpal Sujadi &lt;i&gt;(teman kerja)&lt;/i&gt; dengan becak mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan, langit terlihat gelap. Ada potensi terjebak kehujanan. Tetapi kami jalan terus. Ramalan cuaca dari mas Oktaf tidak meleset. Hujan mulai turun. Kepalang tanggung, kami memutuskan untuk tetap jalan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai janji, kami singgah di Rumah ama Icha &lt;i&gt;(Teman kerja).&lt;/i&gt; Badan basah kuyup. Rasa dingin mulai menyerang. Namun keinginan untuk makan daging ular mengalahkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata hari Sabtu Restoran Daging Ular tutup. Minggu akan di buka. Berita ini tidak membuat kami kecewa. Rencanapun diganti. &lt;i&gt;"...yang penting makan"&lt;/i&gt;, celetuk salah seorang dari kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memutuskan untuk mencari restoran terdekat. Tentu saja menunggu hujan reda. Sambil menunggu, kami disajikan cemilan ala kadarnya oleh keluarga ama Icha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam mulai menunjukkan pukul 2 siang. Laparpun semakin terasa. Namun hujan tak reda juga. Terlihat Elisabeth mulai tertidur pulas di atas sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat rasa lapar yang luar biasa dari kami akhirnya Ama Icha dan Oktaf memutuskan untuk membeli makanan di sebuah restoran. Dengan memilih salah satu daging yang lumayan dikenal oleh masyarakat Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan singa kelaparan, kami menyambut kepulangan Ama Icha dan Oktaf dengan senyum lebar. Makanan pun siap untuk dilahap. Nikmatnya makan siang membuat impian untuk menikmati daging ular sudah terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan siang. Masing-masing membagi cerita. Keluh kesah. Gembira sedih. Tawapun terdengar mengisi ruang makan. Meja persegi empat menjadi saksi bisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehangatan suasana semakin terasa dengan dua botol minuman alkohol. Udara dinginpun semakin tidak terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang sore, hujan mulai reda, kami pun berpamitan pulang. Tak lupa menyempatkan diri mengunjungi pantai Simanaere (&lt;i&gt;30 menit dari Gunungsitoli, Nias).&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di pantai Simanaere, Tumpal berteriak sepuasnya. Lucunya kami pun mengikuti untuk berteriak lepas. Lega rasanya setelah puas berteriak. Masalah seakan hilang bak dibawa pergi oleh angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ditanya, empat dari kami memutuskan untuk berenang. Saya sendiri memilih duduk di atas kendaraan roda dua. Menikmati indahnya pemandangan pantai. Timbul kerinduan untuk melukis alam yang fantastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tigapuluh menitpun berlalu. Kami siap untuk pulang. Sempat juga singgah ke tempat penjualan gorengan. Jualan tidak begitu enak. Namun rasa kebersamaan terlihat diantara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya masing masing berpisah pulang ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah refreshing. Murah namun meriah seperti kata orang. Refreshing mengganti suasana hati. Refreshing membuat pikiran kembali segar. Lepas dari kerja yang selalu menghantui. Lepas dari rantai beban yang mengikat. Lepas dari amarah yang membelenggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refreshing membangkitkan semangat untuk menggapai hari esok yang cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-4440269374635679365?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/4440269374635679365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=4440269374635679365' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/4440269374635679365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/4440269374635679365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/06/refreshing.html' title='REFRESHING'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/__9jdTzMYkQ8/SFdZO3btFDI/AAAAAAAAAD0/fSsP9j5Q0lQ/s72-c/080124_CKS_20CO_Amandraya_I+%2810%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-8570036896556557146</id><published>2008-06-09T10:23:00.001+02:00</published><updated>2010-04-23T16:08:27.963+02:00</updated><title type='text'>Along the road to Hilimbaruzo</title><content type='html'>&lt;i&gt;There is no bandit in Hilimbaruzo. The resident in the village is only a farmer. Depend only with the nature. They are afraid of the police, they will run away. In their mind there’re only two things; run away or being catch up.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By: ERIX HUTASOIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Translated By: Veronika Lase&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When we arrived, HILIMBARUZO just being cascaded by rain &lt;i&gt;(Tuesday, 12/11)&lt;/i&gt;. The time indicate at 5 o’clock pm. We feel so tired after walking the whole time, starting at 9 o’clock am, and decided take a rest in a while. Without realize it, each one of us falling as a sleep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no other choice to go to Hilimbaruzo aside of walking. How lucky we are, the Tetesua river is not overflowed at that time. From the resident we know, no one can cross over the river when it’s overflowing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even at 2001, the river overflowed one village.&lt;i&gt; ”The former President, Megawati Soekarnoputri came here to see the situation...,”&lt;/i&gt;saying Ama Juli, Caritas staff in Gomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After passing the Tetesua river, walking up to the mountain still awaiting in front. Also a slippery area and difficult area &lt;i&gt;(rocks)&lt;/i&gt; is waiting. For us who grows in the city, go along the road is not really easy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many times we want to bewail and grimace. Praying to God saying, &lt;i&gt;“Oh God...it’s really hard! “&lt;/i&gt; And even more some of us want to stop up to here. The reason only one, we are not used to walk. And finally after a long trip we arrived! After 8 hours.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the local language &lt;i&gt;(Nias)&lt;/i&gt;, Hilimbaruzo means Baruzo tree that live on top of the mountain. As the story goes, the tree is very big around 5 hectare. Whomsoever can see even from Gomo, a sub district city around 12 km. Unlucky there’s no more Baruzo tree, remain as a myth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The name Hilimbaruzo is still known as a remote area. Since Faugoli Hulu alias Solarena Fulu Hulu (1886 – 1986) had been open the village, the way to the village is only small way passing by Olayawa mountain. &lt;i&gt;“Before that it takes 6 hours by foot going to Gomo,“&lt;/i&gt; said Ama Wahi Hulu (45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since 2002, Ama Wami Hulu &lt;i&gt;(a Hilimbaruzo man)&lt;/i&gt; who lives in Gomo with a big house. Even though he stays in Gomo, he always visits Hilimbaruzo. He still has a house and relatives there. Oneday before going to Hilimbaruzo we visited him&lt;i&gt; (Monday, 11/11)&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“When I was 15 years old, I ever went to bring rice 15 kg for my brother who was study in di Idanögawo. I walked from 6 am up to 6 pm,“&lt;/i&gt; he said&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ama Wami told us when there was no access to Gomo, the people in Hilimburozo had to go to Lahusa to buy their daily needs. They brought all the things like rice, sugar and the others things. It can reach up to 10s kg. &lt;i&gt;“If you want to go to Lahusa, you need to walk at 6 am to 10 pm (back and forth – red).“&lt;/i&gt; said Ama Wami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From the history, Hilimbaruzo is the first village in that area, even before Gomo, according to this father of 7 children. Only the government build first road in Gomo. And then after it become a subdistrict. Whereas Hilimbaruzo still like before: isolated.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ama Murni Hulu (56), a former village leader for two periods &lt;i&gt;(1975-1981 and 2005-2007)&lt;/i&gt; explained the same thing that way to the village since at the beginning only through the mountain. It’s a footstep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The limitation of access to Hilimbaruzo makes the community are not used to meet a person from outside of the community. They don’t trust to the people from outside, eventhough to the government officer, thinking that a government officer is a police.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“The people always afraid to the police, they thought the police came to catch them”&lt;/i&gt; said Ama Murni. He added that oneday as the government office came, he found many difficulties to explain to the community &lt;i&gt;" … but lately they are improving,”&lt;/i&gt; he said adding his explanation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ama Murni said that the maternal death rate is very high in Hilimbaruzo. Each year not less than 8 mothers died. All that because there is no body can help.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the village, there are whelping quack: Ama Gili Giawa (65); Ina Waigi Zanolo Hia (60); Ina Rusia Laia (52). They used to help the whelping. They can not reach the whole the place because of the geography and mountainous.&lt;i&gt; ”Last month (October),3 women was died,”&lt;/i&gt; said this man that loose his first wife because also because can not save to help the whelping at 1977.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At 2003, many persons got sick because of the cholera, 17 persons died. &lt;i&gt;“Even in a day, 2 persons died,”&lt;/i&gt; says the man who was born at 1957.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;About the education, there is only an elementary school. Secondary School (SMP) was in Gomo. Only on April 2006, the secondary school built in Hilimbaruzo, and the student only up to the 2nd level.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At 1998 Ama Murni, this thin man went to Jakarta. Seeing many big building and big street in this capital of Indonesia republic, he asked his self is it possible to change the village become like Jakarta? It seems impossible. He remind his self that is only a dream. &lt;i&gt;“It can be do it up to the end of the world,“&lt;/i&gt; he says to us with laughing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After earthquake 2005, Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) choose Hilimbaruzo as a project location. CKS planning to build a road throughout 9,2 km, houses for the earthquake victim and clean water system.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Road Construction Project started on Mei 2006. The footpath around Olayawa mountain starting to change now. That road becomes bigger than before. Only the structure of the road is not really worthly. &lt;i&gt;“ Still so many steep grade“ &lt;/i&gt;Say Florentino Sarmento from Chatolic Relief Services (CRS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The enlargement of the road makes an impact to the people in Hilimbaruzo, eventhough it’s not yet finish 100%. It’s not anymore 6 hours to go to Gomo, but faster than before. &lt;i&gt;“..for 2 hours we can reach gomo“&lt;/i&gt; said Ama Murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another advantage that the community have is the mechanism, it’s improving. Ama Murni said &lt;i&gt;”Since the road become wider than before, the mechanism become improving smoothly. Now the people go to Gomo often to buy the common goods,”&lt;/i&gt; he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From the explanation of Ama Murni says that before they’re used to go to Gomo in a group. They are afraid to go alone. Robbery, ravishment and even homicide happened on the way in the forest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Hilimbaruzo people take courage to go to Gomo only with 3-6 adults. They’re avoiding be on the way during the night. &lt;i&gt;”At 6 o’clock the leave, to be able to comeback not so late”&lt;/i&gt; Explaining Ama Murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now the road is wide and bright. The children also have the courage to pass on the road. Like Feni, a 12 years old girl passing the road with her brother. She is not afraid to pass.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ina Nider (30) feels also the improvement. As trader for 5 years in Hilimbaruzo, she goes to Gomo to buy all the things&lt;i&gt;“ Usually on Friday,“&lt;/i&gt; said this women that has the original name Marisati Laia. The way now is faster than before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The trading benefit of Ina Nider becomes.If before she get used to bring only 5 kg.&lt;i&gt; “and now I can bring 10 up to 15 kg…”&lt;/i&gt; she said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Hilimbaruzo way is too long and curving. Many technical obstacles come out to this project, that’s why it makes retardation for such a long time. This retardation makes a polemic to the community. One of them is Ama Murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This former village leader whose really wants that CKS finished in constructing the road. Ama Murni think that the project for the houses and for the clean water system can not be done without construct a road, no transportation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When we asked Ama Murni how about his opinion, how about the project that not yet completed. This man with the eye glasses said warmly, &lt;i&gt;“Anyhow we have to say thank you to the Caritas…” &lt;/i&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-8570036896556557146?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/8570036896556557146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=8570036896556557146' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/8570036896556557146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/8570036896556557146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/06/along-road-to-hilimbaruzo.html' title='Along the road to Hilimbaruzo'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-1239451366334571753</id><published>2008-05-26T04:34:00.005+02:00</published><updated>2010-04-23T16:09:44.279+02:00</updated><title type='text'>Nello Barboni</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/__9jdTzMYkQ8/SDpouwVVQJI/AAAAAAAAACM/KEVi0n0r2g0/s1600-h/Nello+Barboni+%28Director+of+Caritas+Marche%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/__9jdTzMYkQ8/SDpouwVVQJI/AAAAAAAAACM/KEVi0n0r2g0/s320/Nello+Barboni+%28Director+of+Caritas+Marche%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204587471837675666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Sekilas dia tidak tampak seperti seorang Pastor. Perawakannya yang sederhana ditambah senyum khas nya. Membuat laki-laki berambut putih itu dikenal ramah oleh koleganya. Laki-laki ini menghabiskan banyak waktu untuk membantu orang miskin. Dia menyerahkan hidupnya untuk melayani mereka yang terlupakan. Laki-laki itu adalah Pastor Nello Baroni, direktur Caritas Marche, Italia.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Nello Barboni (58) lahir di Tesi propinsi Marche Italia. Tepatnya pada 9 September 1950. Barboni muda tidak lahir dalam kemewahan. Penderitaan telah mendera, ketika dia pertama sekali lahir di dunia.“Saya berasal dari keluarga miskin,” ungkap Pastor yang memiliki enam saudara kandung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan bukanlah hinaan. Itu filosopi sang Pastor. Dia merasa bangga bisa mempunyai kisah hidup sebagai orang miskin. Kemiskinan telah mendidiknya untuk terbiasa hidup apa adanya. &lt;i style=""&gt;“ Saya merasa bangga memiliki Bapak dan Ibu yang selalu membantu kami bagaimana hidup di dalam kemiskinan,&lt;/i&gt;” tandasnya ketika diwawancarai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu masih belia, Pastor ini menyukai sepeda. Pada waktu itu sepeda adalah barang mahal dan berharga. Keinginan sang Pastor untuk memiliki sebuah sepeda butuh waktu yang lama. Dia mengaku baru pada usia nya yang ke 26 tahun, dia baru mampu membeli sebuah sepeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Pastor Barboni, kemiskinan adalah masalah global. Bahkan untuk menemukan defenisi kemiskinan bukanlah pekerjaan gampang. Kemiskinan sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan dan kekurangan. Tapi menurut Pastor Nello kemiskinan bukan hanya selalu karena kekurangan uang. &lt;i style=""&gt;“Orang miskin bukan hanya orang yang tidak memiliki apa-apa. Tetapi adalah orang yang terlupakan,”&lt;/i&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Barboni melanjutkan penjelasannya. Menurutnya gereja secara umum selalu memperhatikan orang-orang miskin. Dan salah salah satu organisasi Katolik yang juga &lt;i style=""&gt;concern&lt;/i&gt; adalah Caritas. Caritas memiliki misi khusus yaitu membantu orang miskin dan mereka yang terlupakan. Pastor ini mencontohkan Caritas di daerah Marche, ItaliaWalau tidak didukung staff yang banyak. Caritas Marche tetap berusaha untuk membantu orang miskin. Mereka melakukan pekerjaan itu dengan tulus dan sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata Andrea Piscopo, Pastor Barboni adalah sosok yang mendidik. Pastor yang ditasbihkan menjadi iman ditahun 1974. Menanamkan semangat pelayanan dalam bekerja di Caritas. &lt;i style=""&gt;“Don (Pastor) Nello menunjukkan bahwa di dalam Caritas memiliki hukum untuk melayani,”&lt;/i&gt; ungkap Andrea Piscopo. Andrea adalah sekretaris pribadi Pastor Barboni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pekerjaan nya melayani orang Miskin. Pastor Barboni memiliki strategi khusus. Dia mengutamakan pendekatan kasih sebagai pengikut Kristus. &lt;i style=""&gt;“Tugas saya di Caritas adalah untuk memajukan model Caritas yang memiliki sifat dan karakter sebagai orang Kristen,”&lt;/i&gt; kata Pastor Nello.Seringkali terjadi di Caritas Marche, banyak orang datang meminta bantuan. Orang itu meminta sesuatu tanpa menyadari apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Kalau sudah begini, Pastor Barboni akan menyediakan waktu untuk berkomunikasi. Dia dengan sabar mendengar keluhan demi keluhan.”&lt;i style=""&gt;Dengan demikian dia mendapatkan kesempatan, mengetahui lebih dalam apa sebenarnya yang dibutuhkan,”&lt;/i&gt; sambung Andrea lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Italia, persoalan pendatang (imigran) menjadi masalah serius. Di negeri &lt;i style=""&gt;“lega calcio”&lt;/i&gt; ini banyak pendatang dari Romania, Maroko, Albania, Senegal, Peru dan Asia. Para pendatang banyak mengalami ketidak adilan. Selain itu, kendala pendatang juga memicu kejahatan sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  Pastor Barboni perduli dengan persoalan imigran itu. Dia bersama Keuskupan Jesi (Marke, Italia) mengikuti perkembangan isu imigran dari hari ke hari. Tidak hanya mengamati. Pastor Barboni aktif melakukan advokasi. Salah satunya melalui media massa&lt;i style=""&gt;.”Seringkali Pastor ini memasukkan (menulis) refleksi dan provokasi mengenai komunitas lokal di koran lokal,&lt;/i&gt;” kata Andrea lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;    Melalui tulisan-tulisannya di media massa. Pastor Barboni mencoba mempengaruhi opini publik. Tujuannya agar terjadi kesadaran dikalangan komunitas lokal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;    Barbara Dettori, dia perwakilan Caritas Italia di Indonesia. Dia punya cerita khusus tentang Pastor Barboni. Barbara menyebut satu peristiwa yang melekat dengan Pastor Barboni. Peristiwa itu berhubungan dengan Mercedes, seorang janda miskin dari Mexico.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;    Pastor Barboni melihat penderitaan yang dialami Mercedess. Janda dua anak ini didera kemiskinan yang akut. Melihat itu Pastor Barboni berinisiatif membantu Mercedess untuk berimigrasi ke Italia. Segala biaya kedatangan ditanggung Pastor Barboni. Sesampainya di Italia, Mercedes diberikan tempat tinggal dan pekerjaan oleh Pastor Barboni. Bahkan biaya pendidikan kedua anak Mersedess ditanggung juga oleh Pastor ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;    Tindakan Pastor Barboni memicu reaksi beragam. Banyak kenalan dan tentangga nya yang bereaksi negatif. Namun Pastor Barboni tegar seperti karang. Dia tidak mundur sedikit pun. Bahkan dia tidak perduli dengan sorotan warga. Baginya keinginan untuk membantu yang miskin adalah segalanya. &lt;i style=""&gt;“Seringkali hal ini menjadikan pertanyaan bagi orang disekelilingnya. Namun dia tidak peduli,”&lt;/i&gt; jelas Barbara Dettori .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;    Semakin mengenal Pastor ini, semakin kita pahami keteguhan hatinya. Dia merasa semua lika-liku hidup yang pernah mendera adalah kekayaan. “Kaya akan harga diri, rasa hormat dan kesederhanaan. Saya mendapat pelajaran kehidupan dari orang lain,” ungkap Pastor Barboni. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-1239451366334571753?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/1239451366334571753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=1239451366334571753' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/1239451366334571753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/1239451366334571753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/05/nello-barboni.html' title='Nello Barboni'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/__9jdTzMYkQ8/SDpouwVVQJI/AAAAAAAAACM/KEVi0n0r2g0/s72-c/Nello+Barboni+%28Director+of+Caritas+Marche%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-450843690595963781</id><published>2008-05-26T04:24:00.001+02:00</published><updated>2010-04-23T16:10:49.953+02:00</updated><title type='text'>Mensiasati Bencana Dengan Hukum Adat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/__9jdTzMYkQ8/SDohfAVVQII/AAAAAAAAACE/CzzmwilpInw/s1600-h/Resize+of+Amandraya+%281%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/__9jdTzMYkQ8/SDohfAVVQII/AAAAAAAAACE/CzzmwilpInw/s320/Resize+of+Amandraya+%281%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204509135929163906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Sebuah pengalaman dari Ramba-ramba&lt;br /&gt;Sejauh mata memandang, tidak ada yang khas di Desa Ramba-ramba. Tata letak sampai bentuk rumah, hampir sama dengan desa lain di Nias. Tapi cerita akan berbeda kalau ditelisik lebih dalam. Disini pola hidup diatur dengan fondrakõ (hukum adat). Barang siapa yang melanggar fondrakõ akan di hukum. Bahkan sampai di hukum mati.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OLEH: VERONIKA LASE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERJALANAN menuju Ramba-ramba di mulai dari Gunungsitoli, Ibukota Kabupaten Nias. Dari sana, perjalanan diarahkan ke selatan. Setelah dua setengah jam, kita akan segera tiba di Teluk Dalam. Kota ini adalah pusat pemerintahan pemekaran yaitu, Kabupaten Nias Selatan.&lt;br /&gt;Dari Teluk Dalam, kita masih membutuhkan 45 menit untuk tiba di Amandraya. Sebuah kecamatan di Nias Selatan. Dari sanalah perjalanan baru bisa diteruskan ke desa Ramba-ramba. Jaraknya 18 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramba-ramba bukan nama asli desa itu. Kurang lebih dua ratus tahun lalu(1800) desa ini kenal sebagai &lt;i&gt;Hilimbõhõ&lt;/i&gt;. Dalam bahasa Nias berarti gunung rusa. Luasnya 1 kilometer persegi. Dihuni oleh 24 kepala keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa penjajahan Belanda (1900) desa Hilimbõhõ dipindahkan ke tempat baru. Tiga kilometer dari desa yang lama. Desa yang baru luasnya 5 kilometer persegi. Nama desa diganti menjadi Hiliadulo (gunung telur). Pada saat itu penduduk bertambah menjadi 63 kepala keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1919, penduduk desa membeli Garambà (Gong). Gong adalah bagian dari budaya Nias. Alat musik ini selalu hadir dalam rangkaian acara adat diseluruh penjuru Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian (1921) desa ini kembali dipindahkan. Ditempat yang baru nama desa kembali berubah menjadi Hiliarambà (Gunung Gong). Menurut Elirama Giawa atau yang akrab disapa Ama Garutu (52). Pemberian nama Hiliarambà berkait erat dengan Garambà adalah kebanggan penduduk desa. ”...(karena Hiliarambà ) satu-satunya desa yang memiliki gong terbesar pada saat itu,” jelas Ama Garutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan nama desa Hiliarambà sayup-sayup tergantikan Ramba-ramba. Tidak ada kisah khusus perubahan nama itu. Nama Ramba-ramba sendiri diambil dari nama sungai yang mengalir di desa Hiliadulo. Karena sering disebut-sebut warga. Akhirnya Hiliarambà menjadi desa Ramba-ramba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, desa Ramba-ramba dihuni oleh 90 kepala keluarga. Dengan luas 12 kilometer persegi. Dan di bagi menjadi empat dusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah warga (penduduk) pernah menjadi pemimpin desa (kepala desa). Dari daftar yang disahkan pemerintah Belanda. Tercatat nama –nama : Fasuihumola Giawa (118 tahun) menjabat selama 24 tahun (1921-1945). Hugosihõnõ Giawa (109 tahun) selama 22 tahun (1945-1967). Amoni Giawa (67 tahun) selama 7 tahun (1967-1974). Lulunasõkhi (75 tahun) selama 10 tahun (1974-1984). Saratõdõ (71 tahun) selama 14 tahun (1984-1998). Dan Waozatulõ (43 tahun) menjabat sebagai kepala desa mulai dari 1998 sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan penduduk. Desa ini pernah diserang pelbagai penyakit. Di tahun 1908, penduduk diserang penyakit yang menyebabkan badan menjadi gembung. Penyakit ini disebut penduduk sebagai penyakit Bahu. Dalam waktu satu minggu, orang yang terserang Bahu langsung meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian penyakit Tali Soyo (mencret darah). Penyakit ini menyerang ditahun yang sama. Penderitanya mengalami kematian dalam waktu cepat. Hanya dalam waktu tiga hari. Keganasan penyakit ini menyebabkan 1/3 penduduk desa meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu masih ada penyakit Sowulu Sukhu. Penyakit ini ditandai dengan gejala demam dan pembengkakan badan. Penyakit ini juga mematikan. Hanya dalam waktu satu minggu, penderita meninggal dunia. Kemudian ada penyakit Kolera dan Mumen (muntah mencret).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, sarana kesehatan tidak ada sama sekali. Penduduk bersandar pada pengobatan tradisional. Khususnya pada dukun. Belakangan penduduk baru mendapatkan pelayanan kesehatan secara medis. Itupun harus ke Ibu Kota Kecamatan, Amandraya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya perjalanan ke Amandraya tidak murah. Untuk kesana harus menggunakan ojek (angkutan sepeda motor). Sekali perjalanan dikenai ongkos sebesar lima puluh ribu rupiah. Artinya untuk perjalanan pulang pergi penduduk harus mengeluarkan kocek sebesar seratus ribu rupiah. Tapi itu belum termasuk biaya pemeriksaan dokter dan pembelian obat-obatan. Lumayan mahal lah untuk penduduk desa sekaliber Ramba-ramba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah kondisi itu mulai tertanggulangi. Karena pemerintah sudah membangun sebuah puskesmas pembantu. Puskesmas itu diserahkan pada tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYAK nya penyakit yang pernah mendera desa. Membuat penduduk belajar untuk mensiasati. Mereka bersama-sama berusaha menanggulangi. Ini yang melahirkan berbagai kesepakatan yang dijadikan fondrakõ (hukum adat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ama Garutu, fondrakõ sudah ada semenjak 1800-an. Pada waktu pertama kali desa desa dibuka. “ Sejak dibuat õri (desa-red) maka dibuatlah juga hukum adatnya,” jelas Ama Garutu yang dikenal sebagai tokoh adat desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fondrakõ dibuat secara demokratis dan fleksibel. Demokratis karena dibuat atas kesepakatan bersama. Dan tujuannya juga untuk kebaikan bersama. Fleksibel, karena fondrakõ bisa diubah seiring perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman bagi pelanggar fondrakõ juga berubah seiring waktu. Dulu, bagi pelanggar dapat dijatuhi hukuman mati. Namun sekarang tidak lagi. Hukuman itu sudah dilarang pemerintah“...sekarang hukuman mati ditiadakan,” celetuk Gatisa Ndruru (34 tahun). Dia istri kedua dari Ama Garutu setelah Maniisa Ndruru (almarhum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh fondrakõ adalah aturan pernikahan. Fondrakõ melarang pernikahan saudara satu marga. Pernikahan baru boleh dilangsungkan kalau sudah sampai 12 keturunan. Di Nias lazim pernikahan antara satu marga. Pada masa lalu, pelanggar fondrakõ seperti ini akan di hukum mati. Pelanggar akan diikat dengan batu lalu dilempar kedalam sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang, fondrakõ seperti itu, tidak lagi di hukum mati. Hukuman sudah diperingan. Pelanggar hanya diminta membuat pernyataan dimuka umum. Lalu wajib menyerahkan ternak, umumnya Babi atau Ayam kepada penduduk. Banyak nya ternak yang harus diserahkan tergantung dari jenis pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, bagi suami yang memukul istrinya dihadapan mertua. Hukuman nya harus memotong 3 ekor babi. Memberi makan penduduk desa. Hukuman Famõzigahenohi yaitu hukuman bagi yang tertangkap mencuri kelapa. Pelaku harus harus memberi 1 alisi bawi (1 ekor babi-red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu fondrakõ juga dibuat untuk mencegah bencana. Baik itu bencana alam maupun bencana karena wabah penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desa ramba-rambah adalah desa yang dipilih CARITAS Keuskupan Sibolga (CKS) untuk melakukan program Disaster Risk Reduction/ Pengurangan Resiko Bencana (DRR). CKS bersama penduduk desa Ramba-ramba melangsungkan PDRA (Participant Disaster Risk Assesment). PDRA adalah alat analisis untuk menemukan potensi bencana disekitar komunitas. PDRA dijalankan secara partisipatif. Penduduk menjadi sumber pengetahuan. Dimana Penduduk adalah guru sekaligus murid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil PDRA, penduduk menemukan ternak, seperti Babi. Berpotensi menyebabkan wabah penyakit. Alex Telaumbanua, staff CKS yang memfasilitasi PDRA itu menyebut,” ...menurut mereka (warga) salah satu penyebab wabah penyakit adalah ternak babi yang bebas berkeliaran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah PDRA, penduduk dengan inisiatif sendiri membuat fondrakõ. Fondrakõ mewajibkan penduduk untuk membuat kandang babi. Pemilik yang babi nya berkeliaran di pemukiman penduduk. Akan mendapatkan peringatan. Jika sudah diingatkan sebanak 2 kali namun masih tetap melanggar. Pemilik akan mendapat hukuman. Caranya : babi yang berkeliaran itu akan ditangkap lalu disembelih. Kemudian dimakan bersama-sama oleh warga desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ternak. Penduduk desa juga menyadari, penambangan batu, pasir dan kerikil, berpotensi menyebabkan tanah longsor. Berangkat dari kesadaran itu, warga membuat fondrakõ yang mengatur penambangan. Warga tidak boleh lagi menambang batu, pasir, kerikil secara sembarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga desa umumnya bekerja di ladang. Mereka bertani dan berternak.“...padi, karet dan beternak babi merupakan penghasilan utama penduduk desa ramba-ramba,” jelas Herman Harefa (staff Caritas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari bagi penduduk adalah waktu istirahat. Waktu seperti itu digunakan untuk berkumpul dengan keluarga. Kadang digunakan untuk kegiatan keagamaan, seperti latihan koor. CKS juga menggunakan waktu malam hari untuk menggelar pertemuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali pertemuan digelar. Penduduk yang ikut sudah beragam. Tua dan muda. Laki-laki dan perempuan. Disini perempuan diberikan kesempatan berbicara. Mereka bebas menyatakan pendapat. Bahkan perempuan terlibat aktif dalam kelompok kerja yang dibentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang persaudaraan dikalangan penduduk masih terjalin kuat. Belum pernah ada pertikaian yang serius. Salah satu faktor yang menyebabkan itu adanya fondrakõ dan ketaatan terhadap ajaran agama. “Warga desa selalu menyatu,” ungkap Pastor Paulinus, OFMCap, pastor paroki di Amandraya. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-450843690595963781?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/450843690595963781/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=450843690595963781' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/450843690595963781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/450843690595963781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/05/mensiasati-bencana-dengan-hukum-adat.html' title='Mensiasati Bencana Dengan Hukum Adat'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/__9jdTzMYkQ8/SDohfAVVQII/AAAAAAAAACE/CzzmwilpInw/s72-c/Resize+of+Amandraya+%281%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-6547224715933066652</id><published>2008-04-10T08:44:00.001+02:00</published><updated>2008-11-12T21:35:18.138+01:00</updated><title type='text'>Uskup Bozen Mengunjungi Nias</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SRs9-ZLqTMI/AAAAAAAAAgQ/O3BpGu6Wl2Q/s1600-h/uskup+bozen.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SRs9-ZLqTMI/AAAAAAAAAgQ/O3BpGu6Wl2Q/s320/uskup+bozen.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267872331260906690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Panasnya matahari siang itu tak melunturkan senyum diwajahnya. Laki-laki berambut putih berpakaian sederhana itu memberkati setiap orang yang dia temui. Laki-laki yang khusus datang dari jauh untuk menunjukkan kasihnya di Nias. Mgr. Wilhem Egger, Uskup dari Bozen, Italia, beliaulah orang yang saya maksud.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang Kristen seharusnya mampu bekerjasama melayani setiap orang yang butuh pertolongan. Caritas sebagai lembaga sosial gereja, hadir untuk melakukan pelayanan itu. Caritas bekerja di semua tempat dengan prinsip &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Keadilan dalam Mengasihi dan Damai”&lt;/span&gt;. Prinsip inilah yang ditunjukkan Mgr. Egger bersama rombongan Caritas Bozen dalam kunjungannya ke Nias 15 - 20 Oktober 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap kesempatan, Mgr. Egger selalu menekankan pentingnya tindakan konkrit dalam melayani komunitas. Tindakan yang bisa membantu komunitas menjadi dewasa dan mandiri. Untuk bisa seperti itu haruslah dengan menolong sesama, memberikan apa yang mereka butuhkan dan mengasihi mereka.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tidaklah cukup untuk memiliki keinginan yang baik (tanpa tindakan - red),“&lt;/span&gt; kata Mgr. Egger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan kali ini, misi Mgr. Egger adalah melihat secara langsung program yang dikerjakan Caritas Sibolga. Termasuk melihat perkembangan Nias pasca gempa dan tsunami. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Caritas dan NGO lain telah melakukan banyak hal di Nias,”&lt;/span&gt; kata Uskup yang pernah mengunjungi Nias di tahun 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengunjungi Kecamatan Sirombu (Jumat, 18/10) Mgr. Egger disambut lima ratusan orang. Mereka adalah korban tsunami dan gempa yang lalu. Hari itu digelar acara penyerahan rumah dari Caritas Sibolga kepada para korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu, rombongan Mgr. Egger bersama rombongan Caritas Austria disambut dengan upacara tradisional. Nyanyian dan tarian tidak hentinya dilantukan sebagai tanda kebahagian. Walau harus duduk dibawah terik matahari, Mgr. Egger tetap tersenyum dan bersemangat. Mgr. Egger terus mengikuti acara sampai berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Minggu (20/10) Mgr. Egger beserta rombongan meninggalkan pulau Nias. Kunjungan Mgr. Egger meninggalkan kesan mendalam serta menuai banyak terima kasih. Wajah-wajah bahagia di Sirombu yang lalu tak henti-hentinya menatap Mgr. Egger. Tangan mereka melambai- melambai sambil berkata,“Terimakasih MONSIGNOR, Terimakasih CARITAS KEUSKUPAN BOZEN!”(Vlase)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-6547224715933066652?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/6547224715933066652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=6547224715933066652' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/6547224715933066652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/6547224715933066652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/04/uskup-bozen-mengunjungi-nias.html' title='Uskup Bozen Mengunjungi Nias'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SRs9-ZLqTMI/AAAAAAAAAgQ/O3BpGu6Wl2Q/s72-c/uskup+bozen.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-429934004894113102</id><published>2008-04-10T08:08:00.003+02:00</published><updated>2008-11-12T21:20:28.099+01:00</updated><title type='text'>My name’s Alina</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SRs6eSuFI8I/AAAAAAAAAf4/WSr9q_RoHpM/s1600-h/alina.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 188px; height: 304px;" src="http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SRs6eSuFI8I/AAAAAAAAAf4/WSr9q_RoHpM/s320/alina.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267868481235526594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apa kabar?”(how are you-ed) a special greeting Alina Brad always said. A beautiful austrian woman. Her accent sounded weird to the ear. But it made everybody she met touched by her effort to speak Indonesian.&lt;/span&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;By: Veronika Lase&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina Brad was born on July 14th ,1978. In Sighetu Marmatiei, a small city in Maramure province, Romania. Alina is very lucky to have a beautiful country like Romania. This small country is very famous for its paintings. The beauty of the city can be seen everywhere, like in the churches and monasteries.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many memories of childhood still lay in her heart. The erractic politics of Romania in 1988 forced her father to move to Austria. A year later, Alina and her family moved to Austria. Alina was still 11 years old at the time.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“We had to go there (Austria-ed) because of the communist rezime in Romania,”&lt;/span&gt; recalled Alina. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“when we arrived in Austria we were helped by Caritas Autria,”&lt;/span&gt; she continued.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Like most imigrant experiences, live in an other country is not that easy. It also happen to Alina and her family in their first weeks in Austria.The problems always appeared. The language is one of the problems.Because Romania language is totally different compared to the Austrian language that has strong german accent . She didn’t have any choice, she had to learn the language of this Viennese Waltz origin country.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It took almost a year for Alina to adapt herself to the German language. In her first months, she didn’t really talk a lot she just listen to people talking.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”I just stayed quiet and listen to them.”&lt;/span&gt;said Alina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the field of her job, Alina has had a lot of experiences as a social worker.she used to work at an NGO &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Non Goverment Organization) &lt;/span&gt;in Austria that deals with protection for woman victim for human trafficking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to Alina a lot of women in many parts of Austria do undecent jobs. They were promised decent job but in fact they were told lies.’&lt;span style="font-style: italic;"&gt;’they were promised work as waiter, as soon as they arrived in Austria, they were forced to work as a commercial sex worker,’’&lt;/span&gt; Alina explained seriously.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Those women mostly came from Albania and Romania. they had to look for jobs in other parts of Europe due to economics difficulty in their countries.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Being a counselor, Alina had done many counsellings, discussions, and visiting.With her NGO, Alina tried to help the victims so they would have a decent life in the country of Mozart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After working in that field, this energetic woman decided to work for Caritas Austria. Her first meeting with Caritas Austria was when she was a child wasn’t the last meeting.her strong will to help poor people has come true. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Caritas is the right organization to make it comes true,"&lt;/span&gt;said Alina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caritas Austria assigned Alina, who likes reading &amp;amp; writing to write a thesis about how Caritas as a social organization works.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”my job is to strengthen participation and work development,”&lt;/span&gt; she explained.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina, who had been to America befote she came to Nias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Indonesia&lt;/span&gt;) at last. On Nias island she did some research on development of livelihoods program sponsored by Caritas Austria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For Silvia Holzer, Caritas Austria representative in Indonesia, Alina’s coming meant a lot. Because her research would become a guideline of the livelihoods program for Moroõ &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(West Nias)&lt;/span&gt;.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “this is the first step for us in the Livelihood guideline for projects in Alasa,”&lt;/span&gt; Silvia said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before she decided to go to Nias, Father Raymond Laila &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Deputy Director of Caritas Diocese Sibolga)&lt;/span&gt; had met the wife of Oliver Ottenschlàger.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Don’t come to Nias, Nias people are cannibals,”&lt;/span&gt; he said jokingly. Fr. Raymond intended to play a joke on Alina to make her scared by telling creepy stories about Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For Alina who been to South Africa before, she took creepy story like that as challenging. She even didn’t feel afraid of it. Alina decided to go to Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After been on an exciting flight for an hour, Thursday,18/10, at last she arrived in Nias, that famous for its tsunami and earthquake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While staying in Nias, Alina worked really hard.she visited difficult areas such as Alasa.Rain, heat, and muddy roads became her friends in Danggari.one of the poorest areas in Alasa, West Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasa is not only the poorest area she been to,she had been to Calcutta, India. In Calcutta, Alina saw many poor homeless people sleeping in streets. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“I have never seen anything like that in my life before’’ &lt;/span&gt;said Alina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina was staying with farmers during her staying in India.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”while in India, I had a chance to meet, visit, and stay with the farmers as well to learn how they worked,”&lt;/span&gt; added Alina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina isn’t a spoilt type in looking for a houses to stay. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“I don’t like travelling and staying in hotel complete with swimming pool,”&lt;/span&gt; she said seriously.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina prefered to live simply especially with the poor. She thought that luxury can be obtained anywhere, not with poverty.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”things like this (luxury) can be obtained anywhere...,” &lt;/span&gt;explained Alina further.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina proved what she had said in Alasa. She had to live in areas with very limited communication acces, not only that, Alina preferd to stay in poor people’ homes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina told us of her experiences while in Alasa, that she really remembered was Nani Waruwu.She met her in Alasa.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”she was about 18 when she got married,”&lt;/span&gt; said Alina when she remembered her new friend.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina saw how Nani lived. From Nani’s story, Alina knew that young woman had to start working at 4 am till late afternoon.everything is just to survive in life. It was obvious to see that Alina was very close to Nani, she even had Nani’s phone number.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a westener, Alina often had problems with communication with villagers, especially with language.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”...I always felt that they made a gap because i was a westerner,”&lt;/span&gt; she sadly said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She also experienced funny things as a westerner.The funny experiences were told by Barbara Dettori, Caritas Italiana representative in Indonesia.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”...one night at a house where she was staying,, people came just to see and stare at her,”&lt;/span&gt; said Barbara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alina is a very easy-going person.She can adapt herself to the new culture, like an Indonesian aphorism: Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung (wherever you go, you adapt yourself to the new culture).Alina did this very well. The strong Nias culture of meat meals is really different to Alina’s character. She doesn’t eat meat. For Alina that wasn’t really a problem. she ate the meat offered with pleasure.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”…she did that in order to get closer with the villagers,&lt;/span&gt;” Barbara added.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One good ‘trick’ that Alina used in winning the villagers’ hearts was to learn the local language &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Nias language )&lt;/span&gt;. Alina studied hard so she could speak the local language. Alina also knew some words in Nias language. Amisibai, mõigauwa he (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;very delicious, we go first yeah)&lt;/span&gt; she said fluently.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the Indonesia language,she even joined a course.Not only studying hard she also practised it in daily life. One of the way, was saying &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Apa kabar, (how are you?)”&lt;/span&gt; to everybody she met.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The warmth and hospitality of Alina was also felt by people around her, one of them was Yusuf Nehe, a caritas staff member. He accompanied Alina to villages. With an expressive face he said, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Alina is a good person,open-minded, and very friendly."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silvia Holzer also said the same thing.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”She is a good friend to discuss things and spend time with, and also humoris”&lt;/span&gt; said Silvia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While staying in Nias Alina has proved her words well, according to her, what she did in Nias wasn’t a compulsion at all. Even she still worked at home.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;” I don’t have gap between home and work”&lt;/span&gt; said Alina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A lot of people just work for money but not for Alina. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;… money makes us happy but only for a moment,&lt;/span&gt;” she said. Alina wanted to do many things for other people not merely just for money.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After staying in Nias for 45 days, Alina, who likes Tano Niha song &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Nias island-ed)&lt;/span&gt; had to leave to return to Austria. She has to finish her thesis in Political Science and International Development Program and of course her report on the livelihoods Program for Caritas Austria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thursday, 29/11 was Alina’s last day work. With glassy eyes and smiles, she said ,&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“…thanks…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alina said proudly &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“I am happy, I could do many things”.&lt;/span&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-429934004894113102?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/429934004894113102/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=429934004894113102' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/429934004894113102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/429934004894113102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/04/my-names-alina.html' title='My name’s Alina'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SRs6eSuFI8I/AAAAAAAAAf4/WSr9q_RoHpM/s72-c/alina.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8126013732840341902.post-598318983308511581</id><published>2008-04-10T08:01:00.005+02:00</published><updated>2009-09-18T13:37:39.796+02:00</updated><title type='text'>Rumah baru untuk “Sirombu”</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rumah yang hancur telah mereka bangun kembali. Cerita sedih selama dipengungsian berakhir sudah. Korban gempa dua tahun silam itu, kini tersenyum lepas. Karena pada Jumat (18/10), Caritas Sibolga dengan resmi menyerahkan 150 unit rumah baru kepada mereka. Akhirnya, “Sirombu” pun pulang ke rumah.***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Veronika Lase&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUMAT itu pemandangan di kantor Caritas Sibolga, Gunungsitoli, tidak seperti biasanya. Serombongan orang dengan rompi bertuliskan “Caritas,” sudah berkumpul sejak pagi. Hari itu mereka akan berkujung ke Sirombu, salah satu daerah di barat Nias yang pernah hancur oleh tsumani dan gempa bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang tengah hari, dua unit Sport Unit Vehicle (SUV) melesat membawa mereka pergi. Melewati Mega Beach satu SUV lagi bertambah, sehingga jumlah mereka menjadi tiga. Tak lama kemudian bertambah menjadi empat, lalu berjalan beriringan.”Kita ini seperti pengantin ya,” celetuk Barbara Dettory, mengomentari iring-iringan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki Mandrehe, Pastor Raymond Laia, wakil direktur Caritas Sibolga, memandu perjalanan melalui radio komunikasi. Sesekali kendaraan berhenti untuk menyaksikan bangunan yang ada ditepi jalan. Pastor Raymond dalam tiga bahasa : Jerman, Inggris dan Indonesia, menjelaskan satu persatu sejarah bangunan itu.”Ini adalah salah satu rumah yang sedang dikerjakan Caritas,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang dibangun Caritas Sibolga ini dirancang khusus sehingga memiliki beberapa keunggulan . Yaitu : (1) Bangunan dilengkapi dengan braising strap, yaitu teknik pengikatan sambungan kayu dengan plat baja. Fungsinya untuk menahan bagunan agar tetap kokoh ketika gempa. (2) Material yang digunakan adalah material ringan. Material seperti ini memudah dalam proses pembentukan. (3) Kalsi Plank yang digunakan sebagai material dinding, sangat sesuai dengan iklim tropis Nias yang lembab.Terlebih lagi bahan ini tidak mudah terbakar dan tahan dari air. (4) Desainnya yang sederhana sehingga memudahkan proses pembangunan. Hanya butuh 45 hari untuk mendirikan satu rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi usia, rumah ini bisa bertahan puluhan tahun.”Bisa sampai 40 tahun,” jelas Deni Purba Field Monitoring Coordiantor (koordinator pengawas lapangan) proyek Earthquake Relief Housing Alasa Mandrehe (ERHAM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ERHAM merupakan proyek pembangunan kembali rumah bagi korban gempa bumi di wilayah Mandrehe dan Alasa. Proyek ini didanai oleh Caritas Austria. Sedangkan pelaksanaannya dilakukan oleh Caritas Sibolga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek sudah dikerjakan sejak setahun lalu.” Proyek ini dimulai 15 September 2006 di desa Onolimburaya,” kata Yemington Hutasoit, salah satu staff yang bekerja untuk proyek ERHAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunikan lain dari proyek ini, karena dikerjakan dengan sistem community. Penerima bantuan (beneficiary) terlibat langsung dalam proses pembangunan rumah. Sedangkan Caritas Sibolga memfasilitasi penyediaan material bangunan, peralatan serta dukungan teknis pembangunan melalui pelatihan maupun penyediaan tenaga pengawas lapangan (field monitor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Secara prinsip merekalah (beneferiacry – red) yang membangun rumah mereka sediri,” tukas Yeminton, menambahkan penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sjoerd Nienhuys (Arsitek – Belanda) dalam dokumennya menuliskan,“Rumah Caritas memiliki design yang terbaik di seluruh dunia, tahan gempa karena memiliki bahan yang tidak mengandung beban berat dan bahan yang mudah diganti...”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiga jam menempuh perjalanan, rombongan tiba juga di Sirombu. Rombongan yang terdiri dari Mgr. Wilhelm Egger berserta rombongan dari Caritas Keuskupan Bozen, Christoph Petrik-Schweifer (Sekretaris Jendral Caritas Austria), Georg Matuschkowitz (Caritas Austria), Sylvia Holzer (perwakilan Caritas Austria di Nias), Pastor Barnabas Winkler, Ofmcap (Bendahara Caritas Sibolga) , Ofmcap, Pastor Rantinus,Ofmcap (Direktur Caritas Sibolga), Pastor Raymond Ofmcap (Wakil Direktur Caritas Sibolga) dan Barbara Direttori (Caritas Italia), Jean Cyril (Secure Catholic – Caritas Francis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastor Matias Kuppens, OSC bersama warga yang sudah menunggu dari pagi, segera menyabut rombongan itu. Sekumpulan gadis muda mengalungkan bunga selamat datang. Diikuti tarian tradisional mengantarkan rombongan ke lokasi acara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan, warga mengelu-elukan rombongan. Wajah riang gembira serta sorakan riuh rendah memecah keheningan tempat itu. Tua muda, laki-laki perempuan sampai anak-anak menyatu menjadi satu. Hari itu kebahagaian terasa betul di Sirombu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga mempersembahkan zimbi (kepala babi) kepada rombongan. Zimbi merupakan simbol penghormatan tertinggi dalam budaya Nias. Satu persatu rombongan dikenakan rompi kuning dengan motif khas Nias. Inilah bentuk ucapan syukur warga Sirombu dan Mandrehe atas bantuan Caritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki dewasa yang diwawancarai rombongan dari Bozen, tidak dapat menutupi rasa kebahagiaannya. Berulang kali dia mengucapkan kata : terima kasih. Sepertinya duka yang dulu membekas akibat gempa, kini mulai terlupakan. Harapan yang dulu sempat hilang kini telah kembali. Akhirnya Sirombupun pulang ke rumahnya!***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8126013732840341902-598318983308511581?l=laseveronika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://laseveronika.blogspot.com/feeds/598318983308511581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8126013732840341902&amp;postID=598318983308511581' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/598318983308511581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8126013732840341902/posts/default/598318983308511581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://laseveronika.blogspot.com/2008/04/rumah-baru-untuk-sirombu.html' title='Rumah baru untuk “Sirombu”'/><author><name>Veronika Lase:</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13313608980466522902</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/__9jdTzMYkQ8/SpVPKyRAssI/AAAAAAAAAso/L2NZ0tdPoN4/S220/SN851139.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
